JURNAL ROMANTIS PERNIKAHAN KAMI





Ini adalah #JurnalRomantissaya dengan suami.

Suami menikahi saya pada tanggal 17 Agustus 2014, tepat dihari ulang tahun saya.


Meski suami anak perantau yang biasa hidup mandiri, ia menerima saya apa adanya sebagai anak manja yang tidak bisa masak, mengurus rumah tangga dan kaku dengan anak-anak.


Suami mengajak saya hidup mandiri, lepas dari orang tua. Saya yang masih ‘nol’ soal rumah tangga, diajaknya melakukan aktifitas rumah tangga bersama, as a team, saya tidak merasa susah apalagi disusahkan, dari tangannya sendiri saya mengenal kehidupan berumah tangga yang sesungguhnya, yang saya pahami ia mengajari saya hidup mandiri dengan cara yang paling lembut dan istimewa.


Suami selalu mengalah, meminta maaf dan memulai baikan pada saat kami bertengkar, meski saya yang salah duluan.


Suami selalu berterimakasih atas hal payah, gak seberapa, yang saya lakukan untuknya, padahal dialah yang lebih banyak memberi.


Kami memeliki satu anak laki-laki, rasa peduli suami begitu besar terhadap anak kami. Suamilah yang mencucikan ari-arinya, mengadzaninya, menjadi Ayah ASI, menidurkan anak, melantunkan shalawat, membacakan Quran untuknya, hingga menyuapinya makan. Sungguh ialah suami seksi versi saya.


Suami meluangkan waktu sepulang kerja demi menemani dan bercengkrama dengan buah hati kami, meski saya tau ia pulang dengan sangat lelah.


Suami selalu memakan habis semua makanan sederhana yang saya masak, meski saya tau masakan saya jauh dari kata special.


Suami selalu menjaga perasaan saya dan anak, ia banyak memeluk, mencium, tersenyum, kemudian berkata bahwa “semua akan baik-baik saja”, meskipun saya tau beban fikirannya begitu berat.


Suami selalu sempatkan diri bertanya "gimana kabar dedek dan bunda hari ini?" setiap hari, sepulangnya bekerja.


Suami selalu menguatkan saya dan bilang "ayah tau peran bunda lebih capek 2x lipat dari peranku, bunda yang kuat ya, kita hadapi sama-sama, semua itu ada surganya”.


Suami selalu memendam keinganan pribadinya membeli ini itu demi mendahulukan kepentingan saya dan anak. Ia sering kali membuka situs online, namun tak pernah ia men-checkoutnya.


Terimakasih suamiku telah membanjiri aku dan buah hati kita dengan banyak cinta, juga untuk kata "i love you" yang tak bosan kau ucapkan setiap saat. Terimakasih juga buat mama mertua yang telah mengajari anak lelaki hebatmu ini bagaimana cara memperlakukan istri dengan cara yang paling mulia.


Suamiku, maafkanlah aku yang selalu egois, banyak mengeluh, tak jarang bilang lelah, padahal kamu yang paling berjuang. Kebawelanku kepadamu pertanda bahwa jiwaku sehat. Sifat cerewetku ini menandakan bahwa hidupku hanya berpusat padamu, lillahi ta'ala..


Thanks to be a wonderfull hubby. Terimakasih karena sudah menghargaiku, diatas segala-segalanya. Terimakasih telah buat hidupku begitu berarti. Terimakasih telah mengajarkanku banyak hal ajaib selama ini. It has been almost 4 years passed and I am so grateful to be your wifey..


Kami - aku dan Rayyan- dengan ikhlas mendoakanmu selalu sehat dan dipermudah dalam ibadah dan dilancarkan segala urusan. Semoga Allah selalu menjaga jiwa dan ragamu, agar selalu istiqamah dalam kebaikan. Semoga Allah memudahkan langkah kita dalam menggapai cita-cita kita bersama, menua bersama, mendidik hingga menyaksikan anak-anak kita tumbuh menjadi insan yang bermanfaat. Kudoakan agar semua ketulusanmu membersamai kami akan jadi amal jariahmu, duhai suamiku..


Duhai Ayah dari anak-anakku, panggilah aku Bunda saat didepan anak-anak kita. Panggilah aku Honey disaat kita berdua saja. Just please keep be a wonderful hubby as you are, sehidup – sesyurga.

**)Artikel ini diikutsertakan dalam lomba yang diselenggarakan oleh @solusiibuattack, dan Alhamdulillah menang 3 besar.

2 Comments

  1. wiidih romantisnyaaa. semoga langgeng selalu pernikahannya mbak henny..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, jadi mauuu.. Eh, malu ding! qiqiqi..

      Aamiin, terimakasih doanya, langgeng juga buat pernikahannya ya Mbak Ghina :)

      Delete