“Apa yang kamu bisa ceritakan tentang Ibumu?”
.
Aku menyebut Beliau, Mama’, diucapkan dengan sedikit penekanan di akhir kata ya, maklum soalnya kita orang (dari) kampung. Mama’ orangnya sabar banget, meski kata orang-Mama’ku galak dan judes. Dalam memoriku gak pernah ada secuilpun kenangan yang buruk tentangnya. Beliau lembut, gak pernah aku dipukulnya ataupun dibentak. Mama’ memang agak cerewet, tapi itulah salah satu kesaktiannya yang membuat kami anak-anak nya nurut, tanpa perlu dikasari.
.
Mama’ku benar-benar orang baik. Aku sepertinya mewarisi delapan puluh persen sifat Beliau. Bahkan gurat wajahku pun, plek, mirip wajah Beliau. Mama’ berkulit putih, postur tubuhnya tinggi dan agak gemuk. Tapi waktu muda badannya tinggi langsing malah, itu yang aku lihat di album foto milik keluarga kami. Difoto itu aku digendongnya dengan penuh kasih dan sayang, usiaku difoto itu kira-kira belum ada setahunan. Itu dua puluh tujuh tahun yang lalu, aku sudah menikah, dan kasih sayangnya padaku tidak juga berbeda.
.
Mama’ku pekerja keras sejak masih muda belia. Beliau hanya mengenyam sedikit pendidikan formal namun mama’ sangat handal mengelola segala hal, seperti memasak, membantu anak-anaknya mengerjakan PR, mengatur finansial keluarga, pinter cari duit, psikiater sejati disaat anak-anaknya galau gak karuan, dan banyak lagi.
.
Beberapa hal yang aku ingat berkesan tentang mama’ adalah saat beliau dan Bapak sesekali mengajakku jalan-jalan ke mall dan membelikanku baju dan sepatu baru. Saat beliau sesekali mengajakku dan adik makan di sebuah restoran cepat saji dan memilihkan kami menu paling enak. Saat beliau mengeloni aku tidur siang di kebun kecil di samping rumah kami. Saat beliau menonton film india jadul siang hari, dan aku menemaninya nonton sepulang sekolah. Saat beliau mengajarkan doa pertama kami, doa orang tua, dengan wajahnya yang teduh dan berharap anaknya ini menjadi anak yang shalihah dan sayang orang tua. Aku membayangkan betapa berharapnya mereka padaku dan adikku mengenai masa depan beliau berdua dunia maupun di akhirat.
.
Jika bicara perihal orang tua, aku selalu cerita apa yang memang aku ingat banget. Orang tuaku bukanlah malaikat yang tak punya cela, pasti pernah bikin anaknya nangis sesekali tapi kebetulan yang aku inget-inget itu kebanyakan adalah perlakuan baik dan ke-super-sabaran mereka yang gak ada duanya, gak ada gantinya. Bahkan belum tentu aku mampu menirunya.
“Allahummaghfirli waliwalidayya, warhamhuma kama rabbayani shaghira”
“Ya Allah ampunilah dosa kami dan dosa kedua orang tua kami, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kami diwaktu kecil”
.
Aku pernah cerita kalau aku suka bertanya tentang hal-hal yang gak biasa di tanya kebanyakan orang. Misalnya mengenai makna doa untuk orang tua, yang menurutku sepertinya gak sekedar memiliki arti yang sesederhana men-doa hal-hal baik untuk orang tua. Tapi apa ya?
.
Hati ini bergetar tatkala aku menyadari kini aku jadi subjek utama dari doa tersebut. Aku adalah orang tua yang akan di doakan oleh anak-anakku. Jika aku renungi pelan-pelan doa tersebut, dan jika aku kaitkan dengan statusku kini sebagai orang tua, penggalan bait doa yang berbunyi “sayangilah mereka (orang tua) sebagaimana mereka menyayangi ku (anak) diwaktu kecil” seperti memiliki makna tersirat. Dalam imajinasiku begini, si anak meminta kepada Sang Maha Kuasa agar senantiasa menyayangi si kedua orang tua, seperti apa yang telah si anak dapatkan dari kedua orang tua nya sejak si anak masih kecil. Nah, seperti apakah aku, sebagai orang tua menyayangi anak dari ia kecil, inilah yang ternyata jadi peringatan keras bagiku sebagai orang tua bahwa perlakuan orang tua kepada anak, sejak anak masih kecil, akan berlaku juga terhadap masa depan kita sebagai orang tua.
.
Aku kini menempati posisi terhormat itu, aku sekarang seorang ibu yang akan di doakan oleh anak-anakku. Doa yang sangat dalam maknanya. Doa yang akan menentukan, seperti apa aku, sebagai orang tua, diperlakukan dimasa depan nanti.
.
Ketika jiwa mulai gak waras dalam keseharian membersamai anak, maka doa itu lah yang aku selalu coba aku ingatkan soo hard pada diriku sendiri. Aku yang sering banget ngomel, dari ngedumel nada rendah sampai teriak dengan nada tinggi, yang terkadang mengabaikan anak karena gadget, yang terlalu mudah menyerah menyuapi anak dengan berbagai makanan sehat, yang sering mengeluh ini dan itu. Semua kesalahan ini selalu aku sesali tapi mengapa juga selalu berulang. Bodohnya, betapa aku ini ibu yang kurang bersyukur.
.
Untuk semua kesalahan ini, aku selalu berharap anakku dapat memaafkan bundanya yang cemen ini. Aku sangat amat menyesal, setiap hari, berulang kali, berusaha memperbaiki dan memantaskan diri karena belum bisa menjadi Ibu yang baik untuk anakku. Jujurly, aku sesungguhnya masih butuh banyak waktu untuk bisa sepenuh hati berdamai dengan ego sendiri dalam menghadapi berbagai keajaiban seputar membersamai anak.
.
Saat ini yang aku bisa lakukan hanya merelakan segalanya untuk bisa membersamai nya, menemani nya sepanjang waktu, meski dengan suara cerewet-pengeluh ku yang menyebalkan ini. Nak, kelak di masa depan mu, relakanlah beberapa hal milikmu untuk bisa menemani Ayah dan Bunda ya, semoga.

HENNY F LESTARI