Aku seorang Bunda, dengan anak laki-laki berusia 2 tahun 6 bulan. Salah satu momen bahagia ku sebagai seorang wanita adalah ketika aku mengandung, melahirkan dan membesarkan buah hati ku. Aku inget banget tiga tahun satu bulan yang lalu, aku mendadak mual-mual gak jelas selama 2 hari, kemudian di anter berobat, dan malah mendapat ucapan selamat dari sang dokter “selamat, ibu sedang mengandung” saat itu aku masih cuek, merasa biasa aja, ya ada suami nya ini kan yak hehe.. Eh, gak deh.. Saat mengetahui bahwa aku hamil, aku dan suami sumringah, senyam-senyum sendiri-sendiri. Sampai dirumahpun kami gak saling banyak bicara, tapi banyak berbuat. Maksudnya gini, suami gak banyak ngomong, tapi dia dikit-dikit gandeng tanganku kemana mana, mau duduk di bantuin, mau makan di suapin, kaki dipijitin, lebay deh pokoknya, tapi aku suka.. Perlakuan termewah yang pernah aku rasakan seumur hidup.

Sekarang anak sudah gede, seringkali teringat kembali pada perlakuan mewah itu, lalu apakah aku kangen hamil lagi? Untuk saat ini jawabannya adalah, tidak, lebih tepatnya ‘belum’, ding! Punya anak lagi bukan tentang uenak-uenak semata, ada tanggung jawab besar di belakangnya. Nggak sembarangan brojol terus udah gitu ditinggal-tinggal, anak yang telah lahir ke dunia ini harus dirawat, dibesarkan  dan dibersamai dengan baik. Rayyan itu cinta pertama ku. Aku belum tega kalau harus membagi (lagi) kasih sayang yang ku miliki ke sosok lain. Aku juga merasa belum secara sempurna memberikan seluruh perhatianku buat Rayyan. Aku khawatir dia akan jadi sasaran kemarahanku ketika aku kelelahan merawat adik barunya, misal. Itu satu, jawaban ‘kedua terbaik’ adalah: Yang Maha Kuasa yang punya kehendak. Belum, ya belum. Jadi, ya terjadilah.

Yang aku utarakan ini hanyalah sebuah curhatan pribadi, selebihnya pilihan mau punya anak berapa adalah hak mutlak dari masing-masing individu. Aku gak menghakimi siapapun lho ya, justru ini adalah pengakuan dosa, pengakuan betapa masih cemen nya diriku ini dibanding  banyak wanita tangguh diluar sana. Jujurly, aku super minder.

Juga, Ini bukan tentang keegoisan kami sebagai orang tua, justru ini bentuk kasih sayang kami terhadap Rayyan dan (calon) adik-adiknya kelak. Maksudnya gini, bagiku punya anak itu sungguh harus dipikirkan matang-matang, secara mental maupun finansial, aku mikir anak yang lahir kedunia haruslah di didik habis-habisan (dalam konotasi positif), jangan sampai seorang manusia terlahir menjadi pribadi yang sia-sia dalam hal manfaat pada lingkungannya terutama agama nya. Tau sendiri kan jaman now, nakutin lah pokoknya. Tapi mungkin aku ini yang terlalu khawatir, mengingat ilmu pengasuhanku belomlah seberapa.

Aku pernah dinasehatin gini sama seorang ibu-ibu “kamu anaknya udah gede, kapan punya anak lagi? Kayak si A deh, biar repot sekalian, pas anaknya udah pada gede-gede emaknya tinggal nyantai”. Dan banyak lagi pertanyaan mirip macam ini dari yang lainnya. Ini kalau pertanyaan ‘kapan punya anak lagi’ bisa dijual, mungkin sekarang aku udah kaya raya :D

Sepemahamanku tugas sebagai orang tua gak akan selesai sampai ajal menjemput. Kasih sayang ibu sepanjang masa. Gak cuma diseputar bikin anak, brojol-brojol, dikasih micin dikit, terus itu bocah gede sendiri. Aku sih tau, emak-emak itu cuma basa-basi, layaknya yang khas di tanyakan oleh kebanyakan orang endoneseah. Aku sih sadar itu cuma kalimat retorik yang gak perlu jawaban. Selama ini jurusku cuma mesem sambil melengos. Tapi kalau jiwa lagi gak genep itu yang repot, penyakit bapernya akut, septik tank tetangga jadi sasaran. Tapi yasudahlah, sekip aja.

Salah satu hal yang bikin aku parno, ada seorang temen yang cerita tentang pengalamannya punya anak, lebih tepatnya ‘kesunduluan’ anak kedua. Dengan jujur dia berkata bahwa dia belum siap atas kehadiran –adik – untuk anak pertamanya itu. Semua nya jadi serba tanpa persiapan, kacau, suami jadi sasaran dan anak pertama jadi korban perasaan. Kesan nya jadi gak harmonis. Bahkan aku yang gak ada perannya dalam keuarga mereka pun ikut nelangsa ngeliatnya. Pengen rasanya bantu momong salah satu anaknya, tapi aku sendiri masih ‘culun’ mengurusi keluargaku sendiri.

Jadi gini, khususnya untuk wanita jenis-jenis tertentu macam kami ini (aku dan teman ku tadi), meskipun kami para wanita sebelumnya sudah pernah mengandung, melahirkan dan merawat anak pertama kami, belum tentu kami siap dan terlatih untuk segera dihadirkan anak lagi dan lagi dalam waktu yang berdekatan. Dibandingkan dengan banyak wanita tangguh diluar sana, aku hanyalah cewek cemen yang capek sedikit ujungnya malah bengek. Semisal henpon, wanita tangguh itu ibarat henpon androit, yang sanggup multitasking sedangkan apalah aku ini yang cuma serupa henpon jadul yang pas buka kalkulator gak bisa disambil dengerin musik, apalagi disuruh nyalain radio tanpa dicolokin erpon. Begitulah, buat ku pribadi kerjaan mengurusi anak adalah suatu hal membutuhkan jiwa yang sehat dan badan yang kuat, agar siap mencetak generasi pengubah dunia, the agent of change. Bukan generasi sembarangan. Gak muluk-muluk kudu jadi manusia superlah, cukuplah menjadi anak shalih yang punya magnet positif buat makhluk-makhluk disekitarnya.

Itulah mengapa sekarang-sekarang ini aku bilang belum siap. Belum tentu juga besok gak siap melulu, aku gak menghindar terus kok, justru sekarang ini lagi gencar-gencarnya memantaskan diri, agar supaya siap. Jadi kapan punya anak lagi? Sabar aja, ini lagi disiapin, belum mateng bener. Ntar kalau udah lahir juga kebagian besek nya kok.

HENNY F LESTARI.