TENTANG SUAMI



Aku mau cerita –lebih tepatnya ngelantur– membahas perihal suami. Tadinya di satu judul ini, aku mau cerita tentang suamiku sendiri, tapi berhubung baru dapet pencerahan dari sesepostingan yang lewat di beranda yang isi nya tentang bahaya dari memamerkan kebaikan suami (sendiri), aku akhirnya gak jadi bahas dia. Takut ah, biar aku dan Allah saja yang tau kebaikan maupun kekurangan mu ya, Hon.. *ndusel ketek.

Sebagai pembukaan gak apa-apa ah aku sisipkan sedikit tentang suamiku. Sederhana saja. Dia itu sudah ‘sesuai standar’ suami idaman (versiku lho ya). Kebetulan aku gak punya pembanding dan gak bakat membanding-bandingkan suamiku dengan orang lain maupun suami orang. Aku kan sudah pernah cerita kalau aku ini jomblo sejak orok, ujug-ujug ketemu ‘separuh tulang rusuk’ yang selama ini di hayal-hayalkan. Kebetulan (2) aku dulu berhayalnya gak yang aneh-aneh kok, sederhana saja (2), aku pengen punya kekasih hati yang setia, tau agama, pekerja keras dan yang penting loyal sama keluarga. Udah gitu aja, aku gak bermaksud pamerin suamiku terus bikin orang lain baper apa gimana sih ya, aku cuma berusaha belajar positif tingking aja, bersyukur niscaya bahagia. Aku berterimakasihlah pokoknya sama apa yang sudah di upayakan kangmas suami buat kebahagian keluarga. Karena sudah seharusnya, sekinclong apapun laki-laki (baca: mantan) diluaran sana, kalah nilainya sama lelaki yang selalu cinta, ngurusin dan ngimamin kita di rumah. Kalimat terakhir ini aku sengaja nyenggol temen yang kemaren cerita masih sayang sama sang mantan, padahal suaminya –kayaknya– nerimo dan baik banget. “nco, konco.. mbok iki di woco”

Eniwey, kemarin itu kalau gak salah sempet ada viral perihal sebuah screenshot yang berisikan curahan hati seorang suami yang istrinya lagi ‘males’ dan itu ‘bukan banget masalah’ buat si suami. Postingan tersebut menuai pro dan kontra dikalangan netijen bapak-bapak dan ibu-ibu, bahkan kids jaman now juga banyak yang ikutan memberi komentar seenak jidat.

Aku pribadi berhubung orangnya baperan dan sensitif, apalagi topiknya berada di ranah ku sebagai pelaku rumah tangga, aku pun tergelitik kepengen juga ikut berkomentar seenak jidat. Lumayankan buat bahan menulis. Semakin banyak tulisan yang aku hasilkan maka semakin banyak pula sampah-sampah pikiran yang terbuang. Ada kepuasan tersendiri jika akhirnya tulisan yang cuma berlabel sampah ini bisa diurai sedemikian panjang nan banyak. Ngomongin tentang nulis dikit nih, akhir-akhir ini aku makin kecanduan nulis, gak tau kenapa. Perasaan tuh hati plong, meski yang ditulis sama sekali gak ada manfaatnya buat orang lain. Bodo ah sekarang-sekarang ini mah, meski ide cerita masih ngelantur, lebih fokus bahas diri sendiri, tapi semoga kedepannya bisa punya wawasan luas yang akhirnya bisa aku tuang ke dalam sebuah – dua buah tulisan yang bermanfaat, aamiin. Apalagi kalau ada yang komen bilang ‘happy baca tulisanmu’, ‘bikin buku dong’ wah aku makin keranjingan buat banyakin nulis. Terimakasih kalian. Aku sih kapok bikin buku, kemaren bikin buku skripsi, tiga eksemplar belum juga ada yang beli. Aku gak bakat bikin buku, kayaknya aku bakatnya jualan cokelat aja, Gaes.

Perihal menulis tadi, aku udah ngebuktiin, setelah nulis, mengeluarkan segala unek-unek dihati, pikiranku jadi plong. Kayak kemaren itu deh, aku lagi sebel sama kangmas suami perihal sesuatu yang gak bisa di bahas di sini, aku udah rencana mau ngambek, biar nanti dia tau kalau aku lagi sebel dan akhirnya nurutin apa yang aku pengenin. Dalam segela kesebelan itu, akhirnya aku nulis, eh abis nulis, kok sebelku ilang ya, mendadak badan jadi enteng banget pengen masakin cemilan ini-itu, mandi yang wangi. Pas suami pulang, malah kusambut dengan kecupan mesra. Eh tanpa di duga-duga, finally, aku mendapat yang aku minta. Emejing deh. *terdiam sesaat. Absurd banget cerita ini wkwkwk, skip.

Oke, mari kembali ke laptop (emang dari tadi dimana?)

Menurutku mengurus rumah tangga -indahnya- ya di kerjain sama istri, dan akan jauuuh lebih indah jika dijadikan tugas bersama –suami dan istri– meski masih bisa diwakili yang lain jika sang istri berhalangan dalam menunaikan tugasnya tersebut, seperti sedang sakit atau sedang bekerja demi membantu perekonomian keluarga. Jika punya dana lebih, bisa menyewa jasa seorang asisten rumah tangga atau mungkin bisa juga diwakili istri kedua, ciyye.. *terdiam sesaat. Sekip.

Kembali ke seorang suami yang kemaren nyetatus bahwa dia gak keberatan istrinya ‘males’. Menurut ku, bliou itu keren lah, bisa punya hati yang besar seperti ini. Dia tau cara menghormati ‘sang ratu’ dalam rumah tangganya. Karena ada pepatah yang bilang bahwa kebahagian sebuah keluarga tergantung pada bagaimana cara suami memperlakukan istrinya. Rezeki Yang Maha Kuasa itu luasnya gak ketulungan, Dia menyediakan banyak pintu rezeki, yang bisa kita pilih seenak udel kita. Nah, salah satu rezeki yang bisa diperoleh adalah dengan melalui ‘pintu memuliakan istri’ itulah mungkin alasan betapa sang suami tersebut memberikan maklum pada sang istri jika si istri sedang males ngapa-ngapain. “Kamu males ya sayang, gak apa-apa lah, biar aku aja yang beres-beres. Yang penting kamu bahagia, biar rejeki ku ngalir terus” begitu mungkin menurut pak suami tersebut.

Menikah itu seni mengalah. Menikah itu ladang basah buat ngumpulin amal, tentunya dengan semua keutamaan tersebut ada harga mahal yang harus dibayar. Enak aja, masak mau masuk surga tapi capek dikit aja, ogah. Huh, ngobrol aja ama onta.

Jadi istri juga jangan semau gue aja kali yak. Kalau ternyata dikaruniai suami yang model kayak diatas itu, ya bersyukurlah, sering-sering mengabaikan kebutuhan keluarga jatuhnya gak bagus buat masa depan, terutama anak, kalau yang lain-lain bisa lah di bantuin sama mbak-mbak asisten tadi. Meski mungkin ada yang berfikir tugas rumah tangga itu gak wajib buat perempuan tapi kalau dijalanin itu jadi tiket surga lho. Tau sendiri dalam islam betapa wanita itu banyak dapet keutamaan dan di jaga kemuliaannya, s&k berlaku.

Well, okeh. Tulisan ku ini, berkaitan erat dengan kabar yang pernah viral itu-tuh. Jadi yang agak disinggung adalah peran suami dan sang istri dalam berita viral tersebut, bukan peran secara umum. Selebihnya yang aku lihat dengan mata kepala pundak lutut kaki sendiri diluaran sana kebanyakan pihak suamilah yang kurang peka terhadap kebutuhan istri. Maka ditengah arus yang mainstrim ini, justru suami dalam screeshot tersebut patut di acungi jempol karena kebesaran hatinya terhadap sang istri. Selamat ya om, nih jempolku bawa pulang satu.

Sekian ocehan ngelantur ku kali ini. Sumpah ini tulisan jelek banget, lebih bersifat opini yang gak ada dasarnya. Harusnya disertai kutipan-kutipan sebagai penguat opini. Maklum yang nulis, pengetahuannya masih sempit, sesempit baju lama pas belom lahiran.

HENNY F LESTARI

0 Comments