BELAJAR MENGGOSOK GIGI TANPA DRAMA


Rayyan menggosok gigi

Mengajari anak shalih ini untuk rajin menggosok gigi beneran tanpa drama lho, tapi ya teuteup melalui banyak episode. Namun saya maklumi ini sebagai sebuah proses yang indah untuk saya ceritakan kelak kepadanya. Anak seumuran gini emang sedang getol-getolnya beradaptasi dengan bahasa, terlebih bahasa emak-emak kayak saya. Jadi kunci utamanya adalah sadari dalam-dalam bahwa ia adalah anak-anak, calon generasi cerdas bermanfaat yang butuh banyak kesabaran kita dalam perjalanan tumbuh kembangnya.

Pertama kali Rayyan punya sikat gigi adalah ketika usianya 1 tahun. Saya sebetulnya tidak terlalu saklek Rayyan kudu segera -mau dan bisa- sikat gigi, terlebih dia jarang sekali makan permen maupun produk manis lainnya. Waktu itu saya hanya iseng membelikannya sebuah sikat gigi set, lengkap dengan pasta gigi dan mainan unyuk-unyuk didalam dusnya. Niat hati tadinya sih hanya ingin memberikan mainan yang manfaat, iya mainan, serius, saya dulu itu mengira bahwa beli sikat & pasta gigi diusianya yang masih setahunan itu, gak bakalan beneran dipakek buat sikat gigi. Mohon maaf dek, saat itu Bunda khilaf, pengen kamu cepet gede, menghipnotismu dengan mainan-mainan sok edukatif macam sikat gigi hihihi..

Sikat gigi dan pasta gigi pertama Rayyan adalah Kodomo. Kenapa Kodomo? Ya gakpapa, soalnya pas lagi belanja di Ceriamart, salah satu sikat gigi anak yang paling colorfull ya Kodomo itu, saya membiarkan Rayyan memilihnya sendiri.

Step 1, Sounding.

Sejak pertama kali beli sikat gigi, saya sudah mulai sounding ke Rayyan bahwa ini adalah sikat gigi, fungsinya untuk membersihkan gigi, dan kalau gak sikat gigi nanti giginya habis dimakan kuman kotor. Begitu terus selalu saya ulang-ulang ketika dia bertanya tentang sikat gigi baru nya tersebut. Singkat kata saya memulai step pertama dengan bahasa komunikatif saja, tanpa praktek. Sebenernya gakpapa juga sih langsung dipraktekin gimana caranya, dengan dicontohkan langsung oleh bundanya, mumpung anaknya punya rasa pingin tahu yang tinggi. Tapi berhubung saya takut Rayyan keburu bosen sama ucapan saya yang terlalu panjang, khawatir poin atau pesan yang saya maksud tidak tersampaikan dengan baik kan sayang, udah mah bocahnya pusing emaknya terlalu bawel, emaknya juga pegel ngoceh gak jelas, oleh karena itu saya sengaja membuatnya sepotong-potong bak puzzle, men-drill perkalimat. Dengan harapan tiap kalimat yang saya berikan dapat ditangkap dengan baik oleh bocah 1 tahunan itu.

Step 2, Mencontohkan.

Nah, sikat gigi nya sendiri baru mulai dipake waktu ia berusia 1 tahun 8 bulan. Berhubung Rayyan seneng nonton Upin Ipin, dia lumayan familiar dengan salah satu lagu yang sering diputar diacara tersebut, judulnya “Gosok Gigi” kalu gak salah, yang lirik reffrainnya macam ni lah agaknya “bulat.. bulat.. bulat..” gitu aja terus isi liriknya, sampe ending lagu. Lagu sesimpel itu rupanya nolong banget buat saya mencontohkan cara menggosok gigi. Awalnya ketika nonton upin ipin, saya sembari ambil sikat gigi kesayangannya itu yang sudah mulai buluk, dan mencontohkannya ke gigi saya (tidak kontak langsung ya, karena sikatnya kotor bekas mainan qiqiqi..) Alhamdulillah Rayyan memperhatikan meski tidak terlalu lama, begitu terus saya contohkan, saya ulangi tiap ada tayangan lagu tersebut di TV. Eh, ini sebenernya gak harus nunggu tayangan di TV aja sih ya, bisa juga dikasih nonton lagu tersebut yang sudah kita download sebelumnya, sehingga bisa kita ulang-ulang sesukanya dan sebosennya anak. Kemungkinan masukan yang diulang lebih sering dan minim jeda bisa lebih efektif, hanya saja saya jarang pegang HP waktu itu, takut dibanting Rayyan hihihi.. Saya lebih suka pake laptop, lebih lebar dan aman buat mata anak. Gak bagus juga, khawatir Rayyan jadi lebih fokus ke HP, bukan ke sikat giginya.

Lagi-lagi saat itu tidak saya biarkan ia mempraktekan langsung ke giginya, saya tunda sembari membeli sikat gigi yang baru. Berhubung juga sikat giginya sudah kotor dan rusak akibat ia gosokan sembarang kemana-mana.

Step 3, Yuk Praktek!

Ini dimulai ketika saya sudah membeli sikat gigi yang baru, dan tiba saatnya mandi, ini adalah momen yang ceria ya harusnya. Sambil tertawa, sambil nyanyi lagu sikat gigi ala upin ipin, sembari Bundanya mencontohkan dengan sikat gigi Bunda, biar si anak memperhatikan dan mulai menggerakan tangannya sesuka hatinya. Sembari juga saya ajarkan kumur-kumur dan melepeh air ludah bekas sikat giginya, meski di tahap ini saya belum mengolsi sikat giginya dengan pasta gigi. Saya baru mulai mengoleskan pasta gigi ke sikat giginya pada saat Rayyan berusia 2 tahun 5 bulan, saat ia sudah paham dan pandai mengapa harus melepeh air liur bekas sikat gigi didalam mulutnya.

Alhamdulillah, sambil terus pelan-pelan, sedikit-sedikit diberi pengertian tentang pentingnya sikat gigi, Rayyan kini sudah dengan sukarela meminta sikat gigi pada saat mandi, padahal Bundanya sering banget lupa, dia udah sikat gigi apa belum, maklum saya seperti kebanyakan mama-mama lain, apa-apa pinginnya saya bikin cepet kelar, supaya segera bisa melakukan aktifitas lainnya. Eh, Alhamdulillah.. Rayyan ternyata sering bantu mengingatkan Bundanya, contohnya “Bunda aku belum sikat gigi” okelah, Nak mari kita singkirkan urusan yang gak seberapa perlu itu, demi keberlangsungan proses belajarmu qiqiqi..

Step 5, Tunjukan secara Audio-Visual

Step ini saya kelewat, saat saya mengajari Rayyan belajar gosok gigi, saya sedang tidak hobi pegang hape, namun, untuk beberapa hal saya mulai sering menggunakan media ini sebagai pendukung saya dalam membersamai anak. Emaknya sembari belajar bijak memanfaatkan gadget. InsyaAllah, selanjutnya saya akan buat tulisan mengenai “solusi agar anak tidak kecanduan gadget ala saya”

Step 4, Aware Makan Permen dll.

Saat sudah rajin dan pandai gosok gigi, saya pikir, that was all, tinggal sering-sering bantu ngingetin Rayyan aja tiap dia mandi. Semua begitu mudah jika mengajari anak dengan tangan kita sendiri tanpa adanya intervensi dari pihak lain. Sampai suatu hari kami melakuakan suatu perjalanan mudik, bertemu dengan banyak orang, bersilaturahmi ke banyak kerabat, saat itu ada seorang kerabat yang gemas sekali melihat Rayyan ia membungkuskan sekantung penuh permen Yupi untuk dibawa pulang. Bak melihat harta karun Rayyan kalap memakan banyak sekali permen pink dengan bentuk love tersebut, hampir sebungkus penuh. Seketika apa yang sudah saya jaga erat-erat, gagal dalam sekejap mata. Saya dapat pelajaran baru, bahwa saya selama ini terlalu protektif dan tidak membiarkan Rayyan mengenal banyak hal termasuk permen yang beredar diluaran sana. Seharusnya saya biarkan ia menjelajah, tugas saya tetap mengawasi dan memberi banyak pengertian saja, tidak perlu terlalu mengekang. Akibatnya ya seperti waktu itu, dia ngamuk permen kayak orang laper hiks..

Sejak saat itu saya membiarkan ia, mengenal dan boleh makan apapun yang ia mau dan lihat, selama itu aman. Dan perihal permen ini tadinya susah sekali memisahkan ia dari si permen Yupi ini, sepertinya dia khawatir Bunda melarangnya kembali makan permen, sehingga saya harus menciptakan rasa percaya ia kepada saya dengan membiarkannya makan dan menyimpan banyak permen asal makannya dikit-dikit aja, supaya besok bisa makan lagi. Tak cukup begitu saja, saya juga menggunakan gadget sebagai media untuk membantu saya menjelaskan kepada Rayyan mengapa Bunda bilang gak boleh banyak-banyak makan permen. Melalui fasilitas kotak pencarian gambar pada Google, saya mengetik kata kunci “gigi bolong, anak, makan permen” lalu munculah disitu beberapa gambar terkait kata kunci yang saya ketik tadi. Daaan jeng-jeng, saya biarkan Rayyan berimajinasi, lalu saya bertanya “gambar apa itu Nak?” “ini anak-anak ya Nda? Ini apa Nda hitam-hitam, takut”, sambil saya tunjuk gambar-gambar yang saling berkaitan, saya menjelaskan dengan kalimat sederhana “nah itu dia Nak, anak-anak yang makan permen banyak-banyak, gak mau nurut Bundanya, terus giginya hancur, bolong, dimakan kuman, hiyy! Dedek mau?” ucapku, meledek. Lucu, ia bergidik ngeri.

Sejak saat itu ia berhati-hati sekali ketika melihat permen, saya tau dia sangat doyan permen tapi ia pandai sekali menahan dirinya, karena kasihan saya tetap menawarinya permen untuk ia makan sesekali, bukan bermaksud plin-plan, maksud saya, ia tetap boleh sesekali makan permen dan apapun itu hanya sekedar menggugurkan keinginannya, asal tidak berlebihan. Saya kapok melarang Rayyan terlalu berlebihan, itu saja. Agar saat ia besar ia tidak menyimpan ‘dendam’  terhadap permen. Saya ingin ia puas dan tuntas dengan masa kecilnya.

Oiya ada cerita haru, ketika dihari pertamanya sekolah, ada kegiatan rutin berkala ‘belajar menggosok gigi”. Diusianya yang menginjak 3 tahun 4 bulan, ia mengikuti aktifitas tersebut tanpa canggung bersama kawan-kawannya berusia lebih tua, kisara 4 s.d 5 tahun, tanpa bantuan saya, alhamdulilah.. Bu gurunya-pun berdecak kagum, saya jadi terharu, sumpah.. sesimpel apapun kegiatan yang berhasil ia lakukan, bagi saya itu sebuah prestasi yang membanggakan. Maklum saya emak yang kagetan, dan norak qiqiqi..

Disudut paling atas, ataupun pada judul tulisan ini saya tidak menyatakan bahwa ini secara keseluruhan adalah “cara cepat mengajari anak menggosok gigi”, ya bukan! Bahkan seharusnya ini ditulis dengan judul “cara terlama belajar gosok gigi” qiqiqi.. Tulisan ini dibuat sebagai rekaman maupun arsip pribadi saya kelak dimasa depan. Betapa untuk hal yang sepele macam mengajari gosok gigi saja, saya sampai lebai membuat tulisan sepanjang ini wkwkwk.. saya menulis bukan sebagai ibu paling benar dengan segala pengalamannya, melainkan sebagai portofolio saya sebagai ibu pembelajar yang senang berproses, mau bersabar menjalani waktu demi waktu demi membersamai anak melakukan berbagai aktifitas tanpa batasan waktu.

Ya ampyun tulisan segini banyaknya cuma buat bahas “sikat gigi” wkwkwk.. Yups, betul Moms, demi mengajari Rayyan agar cinta dalam melakukan berbagai aktifitas baik, saya perlu waktu lebih dari sehari, seminggu, sebulan bahkan bertahun-tahun. Karena penting sekali memilih suasana hati, mood, serta waktu yang ceria agar anak tidak trauma dengan aktifitas yang akan kita kenalkan, terlebih saya orangnya moody-an parah, and that was too bad, berbanding terbalik sekali dengan tugas saya sebagai seorang ibu, maka ‘alon-alon asal kelakon’ adalah solusi  terbaik bagi saya dalam membersamai anak. Tak apa terlalu lambat daripada yang lain, yang terpenting prosesnya, hasil akhirnya, serta penerapan dalam kehidupan anak dimasa depan nanti yang akan dipanen oleh saya nantinya. Biarkan anak-anak kita bahagia dengan prosesnya dalam bertumbuh.

Demikianlah cara saya dalam mengenalkan Rayyan cara menggosok gigi dan menanamkan pentingnya kesadaran sikat gigi setiap hari melalui cara-cara sederhana ala saya -seorang ibu yang masih tertatih-tatih, bahkan pada hal sepele- Saya ingin sekali menjadi ibu yang baik, saya sedang belajar, semoga Allah SWT memudahkan..

"Yang nikmat itu prosesnya, karena yang instan itu cuma kopi dan indomie. Sesungguhnya setiap satu kelelahan yang kita rasakan dalam sebuah proses, ada -satu derajat kita- yang Allah tinggikan."

Wallahu a’lam.

0 Comments