Menjadi Ibu Rumah Tangga Tanpa ART


Saya merebahkan diri dilantai, sekena nya, saya sudah tak memikirkan apa-apa lagi, saya hanya ingin menangis, meratapi diri. Apa yang salah dengan saya, Tuhan? Betapa -tidak tau dirinya saya- bertanya demikian pada yang Maha Kuasa.

Beberapa waktu silam, saya berada di fase dimana saya jenuh menjadi seorang ibu rumah tangga. Kejenuhan ini memang sudah berlangsung agak lama, sebelumnya saya selalu abaikan. Berharap lupa dengan sendirinya namun ternyata ini malah makin memburuk, saya makin mudah emosi terhadap hal sepele macam lantai kotor oleh anak, dan bekal makanan yang tidak dihabiskan oleh suami.

Saya sempat berpikir saya butuh BANTUAN. Saya sudah tidak dihargai lagi dirumah ini!

Saat menangis sejadi-jadinya, terputar sebuah film dimasa lalu. Masa dimana saya punya banyak kebebasan, kejayaan, jalan-jalan, nongkrong sama teman, tidur nyenyak, banyak tertawa, banyak melakukan hal konyol, membuat prestasi di sekolah, dikantor. Ya Tuhan, mengapa aku meninggalkan semua itu dan sok-sok an memutuskan untuk segera menikah, dekan bekal ilmu yang ala kadarnya ini. Aku tidak tau jikalau menikah itu bermakna pengorbanan seumur hidup.

Dalam keadaan emosi, apalagi sendirian, saya sungguh tidak bisa berpikir positif sama sekali. Sampai tiba-tiba, suara anak saya memecah semua lamunan.

“Bunda, dedek minta maap. Bunda ngomong dong sama dedek, jangan sedih” ucapnya seraya menggoyang-goyangkan pundak saya yang sedang dalam posisi berbaring, dengan tatapan mata yang kosong.

Saya terdiam, tidak menoleh kepadanya. Ia -yang merasa tidak saya tanggapi-, kemudian beranjak pergi. Saya tidak hiraukan, “aah anak-anak.. senang sekali rasanya menjadi anak-anak, tidak perlu repot-repot berpikir yang berat-berat macam keruwetan yang Bunda nya rasakan saat ini” keluh saya dalam hati.

Candid.
MasyaAllah, Tabarkallah, bisa terpikir untuk memfoto momen berharga ini.
Cuma emak yang tau gimana nilai bahagia-nya.

Namun ia kembali menghampiri saya, dengan membawa alat pel lantai, untuk kemudian menuju tempat -dimana ia mengotori lantai tadi dengan tanah dari luar rumah-. Masya Allah, air mata ini kembali mengucur, betapa saya mudah lupa dengan tujuan saya menikah, tujuan saya punya anak. Betapa saya lupa, dengan banyak nikmat yang Allah beri pada saya setiap harinya. Dalam kondisi marah, saya jadi mudah melupakan alasan UTAMA mengapa saya selama ini rela berkorban demi keluarga saya.

Saya bangkit, menghampiri bocah yang belum genap 4 tahun itu, yang sedang berusaha keras memaju-mundurkan alat pel, yang entah siapa yang mengajarinya caranya demikian, saya sangat takjub, Allah menampar saya dengan cara ini. Saya malu.

Betapa Allah tidak membuat secuilpun kelelahan yang saya rasakan menjadi hal yang sia-sia. DIA tinggikan derajat saya, DIA investasikan segala perjuangan saya ke dalam diri anak ini. Ya Allah aku hanya kurang sabar, aku hanya kurang mensyukuri dan menghargai diriku sendiri.

BANGKIT

Ya benar, saya hanya butuh menghargai diri sendiri. Saya bekerja dengan keras dirumah, sudah selayaknya butuh kesempatan menyalurkan energi dan pikiran dengan cara yang positif. Sehingga tidak akan lagi saya punya waktu untuk meratapi hal yang sesungguhnya malah akan makin memperburuk keadaan. Saya harus bangkit.

Saya ingin mandiri, mengurus rumah tangga sendiri, mengajari anak dengan tangan sendiri, saya sok perfeksionis padahal ilmu saya sungguh minimalis. Ditengah pengorbanan yang sedang saya jalani ini saya merasa ingin kembali seperti dulu, menjadi pribadi yang senang berprestasi. Saya yakin pasti bisa, tapi bagaimana caranya?

Selama ini saya merasa 24 jam sehari itu kurang buat melakukan banyak hal, belum sempat dalam sehari itu saya menyenangKan diri sendiri, tau-tau udah keburu pagi lagi, tau-tau udah hari senin lagi. Lelah yang terus bertumpuk.

MENJADI IBU RUMAH TANGGA ‘WARAS’ TANPA ART

Saya bukanlah termasuk golongan orang ‘berada’, terlebih suami adalah seorang perantau, pekerja keras, dan latar belakang keluarga kami sangat tidak familiar sekali jika menggunakan jasa ART. Jadi tidak pernah terbersit dipikiran untuk menyewa jasa seorang asisten rumah tangga. Maka saya harus benar-benar mendalami peran saya secata total, sebagai ibu yang merangkap banyak peran.

Mungkin gak sih, saya menjaga rumah yang sangat menguras banyak tenaga, sementara saya harus membersamai anak dengan pikiran yang tenang sekaligus ingin sekali meluangkan waktu menggapai impian. Ya kalo strateginya masih begini-begini aja sih gak mungkin.

Setelah menjalani beberapa kali brainstorming, perang batin dan banting-banting diri, sedikit demi sedikit saya mulai ‘dibuat’ mengenali diri sendiri, saya juga menjadi paham dimana saja kelebihan yang dimiliki dan harus optimalkan. Bertemulah saya akhirnya dengan beberapa strategi yang cocok dengan kepribadian saya sendiri, adalah sbb:

1. Gabung dengan komunitas yang sesuai dengan passion. Hal ini sangat membantu saya untuk dapat membuka wawasan dan mudah berpikir positif. Betapa Allah memudahkan hijrah seorang hambanya, ketika saya berniat bangkit tapi tak tau harus mulai darimana, Yang Maha Kuasa mengirim saya ke sebuah komunitas Ibu Profesional, yang Alhamdulillah melalui komunitas tersebut saya ‘di pahamkan’ bahwa seorang ibu itu sejatinya, seorang ‘ratu’ dalam rumah tangga, wanita yang berperan penuh sebagai pengurus rumah tangga sekaligus menjadi wanita produktif yang bermanfaat. Di tahap ini saya mulai meluruskan niat, semoga lelah jadi ‘lillah’.

2. Kandang Waktu. Yaitu, mengelompokan jenis pekerjaan serupa dalam satu waktu, sehingga kita akan tau kapan kita akan sibuk dan kapan kita akan senggang. Dengan mengetahui kapan tersedianya jam senggang, kita akan semangat menyelesaikan tugas Rumah tangga sesegera mungkin dengan penuh semangat tanpa malas-malasan, karena ada yang dikejar yaitu me-time yang berkualitas. Bukan me-time kayak dikejar-kejar kucing.

3. Membuat checklist atau jadwal. Hal ini dapat menyelesaikan tugas rumah tangga dengan teratur. Tidak khawatir akan ada yang terlewat, tidak akan ada anak atau suami yang terlantar jika kita disiplin menaati checklist yang sudah dibuat. Setelah semua tanggung jawab tercentang, lagi-lagi akan hadiah me-time berkualitas yang menanti.

5. Sediakan waktu berdua saja dengan suami. Ini penting demi menjaga keharmonisan rumah tangga. Luangkan waku mengobrol bersama, jalan-jalan berdua saja, membuat aktifitas lucu yang mengingatkan pada saat jaman masih ‘berdua’ dulu. Strategi ini selain menjaga hubungan kita dengan suami juga dapan menstimulasi hormon-hormon bahagia seluruh anggota keluarga.

6 Displin waktu dan terus meng-upgrade diri. Jangan berhenti, terus upgrade diri, teruslah aktif mengikuti kegiatan positif. Jika displin menaati checklist yang sudah kita buat makan kita akan bisa punya begitu banyak waktu luang untuk menggenggam dunia, meski kita hanyalah seorang ibu rumah tangga.

Menulis blog adalah salah satu self healing yang sedang saya jalani ditengah-tengah kehebohan saya sebagai ibu dengan 1000 peran. Perlahan tapi pasti, saya ingin sekali bisa menjadi Madrasatul Ula bagi anak-anak saya, penenang dan penyejuk hati bagi suami sekaligus menjadi manusia produktif nan bermanfaat, seperti ibu-ibu hebat diluar sana.

Karena bahagianya sebuah keluarga dimulai dari bahagianya seorang ibu, -ratu rumah tangga-.

Salam bahagia untuk seluruh ibu bahagia.

**) Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Mothers On Mission, dan Alhamdulillah menang 3 besar.

@Clarishome
#HariBloggerNasional
#MomsAppreciatesBlogger
#MomsxClaris
#MothersOnMission

Henny F Lestari.