Salah satu kegiatan positif bagi kebersamaan Ibu dan Anak yang diselenggarakan oleh IIP

Semisal, kehidupan yang sedang dijalani saat ini adalah sebuah sekolah yang bernama Universitas Kehidupan, maka jurusan ilmu apa yang paling ingin ditekuni? Tentunya pilihan yang terpilih akan berkaitan dengan peran diri sebagai  anak, istri, ibu, pekerja, seorang muslimah, juga sebagai warga negara yang baik.


1 tahun di TK, 6 Tahun di SD, 3 tahun di SMP, 3 Tahun di SMA dan 4 tahun (lebih) di Perguruan Tinggi. Total 17 tahun bersekolah, begitu banyak ilmu yang diperoleh namun keseluruhan ilmu tersebut sudah berapa persen yang sudah di aplikasikan ke kehidupan ini? Aku malah melongo.


Sejati nya semua ilmu itu bermanfaat, contoh, gara-gara belajar Matematika aku jadi bisa mengatur keuangan keluarga, dari belajar Bahasa Indonesia aku jadi bisa berkomunikasi dengan baik dalam kehidupan bersosial, dengan ilmu Agama aku jadi tau bagaimana berakhlak yang baik terhadap sesama dan tertuntun bagaimana “cara nya hidup” dan akibat belajar Bahasa Inggris aku kok paham betul ketika suami bilang aylaview, wkwk.. melenceng ya.. ilmu bahasa inggris membuatku bisa cari duit sambil menggembol anak kemana-mana.


Lalu di Universitas kehidupan, ada ilmu apa saja yang bisa di pilih sih?


Sebagai seorang Ibu, juga sebagai seorang warga sipil yang sangat bertanggung jawab mencetak generasi penerus yang berkualitas baik, seringkali saya merasa kewalahan ketika anak sedang tidak dalam kendali. Di satu sisi saya menyerah lelah, di sisi lain tanggung jawab yang dipikul begitu berat. Bagaimana caranya mendidik anak dengan standar yang begitu tinggi sedangkan aku gak pernah mengenyam ilmu pendidikan berkenaan dengan anak. Aku tau nya cuma belajar Grammar, terus mosok anak ku tak suruh belajar TOEFL, kan lucu. Bisa-bisa aku yang tantrum.


Mundur sedikit ke kenangan sewaktu aku masih mudaan dulu. Aku anak pertama dengan satu adik laki-laki, that is all. Karena berbeda gender, tentunya kami merasa jadi anak perempuan satu-satunya dan anak laki-laki satu-satunya. Kami tak terdidik sebagaimana orang tua-tua dulu menggembleng keras anak-anak mereka. Singkat kata kami anak manja. Meski manja, kami anak baik dan penurut hanya saja kami tak dilatih melakukan banyak aktifitas rumah tangga. Itu bukan hal baik ya, tapi orang tuaku sangat bermaksud baik hanya caranya saja yang kurang tepat, intinya aku sayang mereka dengan segala perlakuan mereka pada kami sejak kami kecil. Biar Allah balas segala kebaikan beliau berdua.


Singkat cerita, salah satu anak manja itu menikah, kemudian di anugerahi seorang anak shaleh, sehat nan tampan (aamiin) yang kemudian memasuki babak baru dalam Universitas Kehidupan. Sebagai seorang manusia yang sudah mengenyam pendidikan berbelas-belas tahun itu harusnya aku (dituntut) lihai mengurusi segala kebutuhan anak dan rumah tangga. Iya lho, belasan tahun sekolah gak tahu caranya melanjutkan hidup, kelaut aja lho! Begitu teriakku kepada diriku sendiri. Namun, dalam praktiknya aku seringkali konyol dan kaku. Itulah awalnya mengapa aku merasa tidak berbakat dan tidak punya ilmu mumpuni menjadi seorang Ibu yang baik dan benar. Andai, ada sekolahannya aku mau sekolah lagi, mau ambil jurusan menjadi IBU yang PROFESIONAL.


Dalam Kamus Kata-Kata Serapan Asing Dalam Bahasa Indonesia, karangan J.S. Badudu (2003), definisi kata profesional berarti (1) bersifat profesi (2) memiliki keahlian dan keterampilan karena pendidikan dan latihan, (3) beroleh bayaran karena keahliannya itu. Jadi ibu yang professional yang aku simpulkan sendiri tuh kayak gini kali ya, seorang ibu yang berkualitas, ahli dan terampil dalam menjalankan keseharian yang tentunya dari kemampuannya tersebut akan mendapat bayaran dari yang Maha Kuasa baik dalam bentuk rezeki anak yang shaleh bermanfaat, kehidupan yang baik bermanfaat juga pahala jariyah. Cmiiw ya, ini cuma opini pribadi yang dikarang-karang.


Betapa Allah begitu menyayangiku, doaku segera terjawab. Beberapa waktu yang lalu, setelah melalui berbagai tahap, akhirnya aku menemukan Institut Ibu Profesional. Sebuah komunitas berisikan para ibu yang haus akan ilmu bermanfaat. 

Ibu Profesional : 
"Kami adalah komunitas para Ibu dan calon ibu yang ingin meningkatkan kualitas diri sebagai seorang perempuan, seorang istri dan seorang ibu" -www(dot)ibuprofesional(dot)com-

And finally I am in, meski masih berada di beranda nya saja. Ya, aku kini sedang menjalani kelas matrikulasi nya, kelasnya dimulai tg 27 Januari 2018. Semoga dengan segala keterbatasan yang aku miliki aku mampu menyelesaikan kelas ini dengan konsisten, mengingat aku orangnya gak konsisten wkwk kelaut aja lho! (2)

Logo IIP


 Yeah, Dear! Akhirnya aku sekolah lagi.
Dimana? Ya, di Institut Ibu Profesional dong!

Nantikan hasil dokumentasi ku dari kegiatan dikelas nanti ya, please stay tune :)


“Sekolah itu gak mesti disekolahan” –Kata Emak ku–