Di akhir tahun 2015, aku dapet kabar dari kangmas suami bahwa perusahaan ditempatnya bekerja mengalami kebangkrutan, perusahaan akan ditutup dan karyawan semua akan di PHK. Kabar tersebut membuat aku dan suami limbung, tapi kami berusaha bersikap bahwa semua akan baik-baik saja. Kami, berdikusi pelan-pelan dan membuat bagaimana rencana hidup kedepannya, mengingat saat itu aku tidak bekerja dan anak baru berusia kurleb 6 bulan yang juga full ASI. Kami serahkan semua sama Allah SWT, ada Allah, ada Allah.


Qadarallah, beberapa hari setelah suami di PHK, aku diterima bekerja sebagai staff personalia dengan gaji lebih besar dari gaji suami sebelumnya. Dengan menitipkan anak lanang semata wayang pada Mbakung dan Mbuti nya. Dan aku mengupayakan tetap melanjutkan ASI meski bekerja, dengan memompa ASI setiap jam 9 pagi dan jam istirahat.


Sementara suami masih mencari kerja, 3 hari setelah di PHK dia alhamdulillah mendapat panggilan kerja, namun dengan status karyawan harian. 3 minggu bekerja, suami di cut dari tempatnya bekerja dengan alasan produksi sedang sepi orderan. Suamiku itu tipe orang yang gak bisa nganggur memang, masyaAllah, keesokan harinya setelah di cut, dia kembali berkeliling mencari lowongan pekerjaaan. Begitulah, alhamdulillah dia akhirnya mendapat pekerjaan lagi, namun lagi-lagi dengan status karyawan harian.


Ini kali pertama bagi kami, aku kerja, suami kerja, anak sama orangtua. Hari-hari kami jalani layaknya diuber-uber setan, gak enjoy, gak punya banyak waktu buat anak, buat ngobrol berdua. Setiap hari cuma bisa merenung dikantor sembari shalat Dhuha, minta sama Allah SWT supaya diluruskan semua hal yang ruwet ini.


Sampai suatu hari aku ditegur oleh atasan dikarenakan kebiasaanku menjalankan shalat Dhuha dijam kerja, juga berbarengan dengan munculnya kebijakan baru yaitu dilarang membawa HP kedalam kantor yang mempersulitku kangen-kangenan sama anak dirumah. Terlebih lagi, lagu-lagu rohani yang disetel keras-keras di dalam kantor oleh si bos pemilik perusahaan sepanjang hari, semua itu membuatku hampir gila, gak betah kerja pokoknya.


Dengan semua kekacauan itu, akhirnya dengan mencuri-curi waktu sebisanya, aku curhat sama suami. Suamiku yang memberikan kebebasan untuk membuat keputusanpun ternyata dirinya juga punya keluhan. Dia sedih kalau harus menjalani hari-hari tanpa diskusi seperti ini. "Aku butuh honey yang enjoy dan happy, biar hari-hariku lebih semangat. Selama honey kerja, honey gak pernah ada waktu buat aku" begitu keluhnya. Disaat yang sama Mbakung dan Mbuti juga mengeluh, selama ditinggal kerja Rayyan rewel aja gak bisa disambil ngapa-ngapain, kelihatannya semua kerepotan gara-gara aku.


Dengan semua yang terjadi, aku memohon sama Allah SWT, mohon jalan yang terbaik. Kalau aku kerja, semuanya repot dan sedih bagaimana aku bisa se-egois itu. Sedangkan kalau aku gak kerja, bagaimana dengan perekonomian keluarga kecil kami, kangmas suami masih berstatus karyawan harian, itu sangat tidak aman buat kami. Itulah, saat itu aku lupa, ada Allah Maha Pemberi Rezeki.

.

Suatu hari suamiku mendapat panggilan kerja dari sebuah perusahaan yang ternyata lokasinya dekat dengan tempat kami tinggal. Perusahaan itu menawarkan gaji yang lumayan dan kepastian status karyawan tetap (setelah 3 bulan). Allahhu Akbar, saat itu juga aku bersyukur dan memantapkan hati untuk berhenti bekerja.

.

Setelah aku berhenti bekerja, ada hikmah buat kami sekeluarga. Setelah lewat masa job training 3 bulan, suami naik gaji, yang kalau dihitung-hitung setara dengan jumlah gaji suami digabung gajiku ketika masih bekerja, dan lebih barakah menurutku, karena saat ini keuangan lebih terencana. Aku memillih fokus menjadi staf finansial pribadi dari suami tercinta. Lebih enjoy, lebih happy.


Allah itu maha besar, masalah gaji suami itu urusan sangat sepele sekali bagi Allah. “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: ayat 2-3)


Aku baru sadar bahwa tugas utama seorang istri adalah “Ummu Warobatul Bait ” ibu dan pengatur Rumah Tangga. Jika tugas utama seorang istri terabaikan dengan aktifitas mubahnya -yaitu bekerja- maka hukum bekerja menjadi tidak diperbolehkan dan Allah membencinya. Karena jika hilang fungsi istri dan seorang ibu maka kehancuran generasi sudah menjadi suatu kepastian, karena ibu adalah madrasatul ula -pendidikan pertama dan utama- bagi anak-anaknya.


Menjadi ibu bekerja pun sangat diperbolehkan, banyak dianjurkan karena mencerminkan wanita cerdas yang mandiri, sama-sama mulia di mata Allah SWT, apalagi jika suami ridho dan anak bisa terhandle dengan baik. Bagiku pribadi secara fisik dan mental mereka adalah wanita hebat luar biasa. Hanya saja dalam kasusku ini, aku gak berbakat menjadi seorang ibu bekerja ketika anak dan suami masih butuh perhatian ekstra.

HENNY F LESTARI