Aku dan gelar yang tersemat di akhir namaku.

Dulu waktu aku masih kecil, Bapak ku sering banget kerja jauh kayak di Bandung dan Jakarta. Itu jauh bagiku, karena toh gak bisa aku susul dengan jalan kaki. Tapi waktu itu Bapak ku kerja nya naik motor kok atau kadang naik bis, gak jalan kaki juga. Tiap pulang kerja Bapak ku selalu bawain oleh-oleh, dan yang paling sering beliau bawakan buat oleh-oleh adalah buku. Aku bahagia banget, bersyukur aja, Bapak tau banget kalau anak wedhok nya ini suka banget baca buku, melebihi hal lain yang disukai anak-anak seumuranku. Terharu tiap inget momen itu. Yang aku tau, aku bisa pinter gini ya karena perjuangan nya Bapak, meski sibuk, Bapak gak cuek sama pendidikan kami. Atas segala upaya Bapak dan Mama’ mengajarkan kami –aku dan adikku- banyak hal bermanfaat, semoga semua itu jadi amal jariyahnya beliau berdua nantinya. Aamiin. Eh, iya.. yang bilang kalau aku ini ‘pinter’ cuma mama’ dan bapak ku aja kok ya. Jangan di ambil hati.

Dari buku-buku yang Bapak belikan sepulangnya beliau kerja itu aku paling tertarik sama kamus bergambar dan beberapa flashcard nya, terutama yang ada bahasa Inggris nya. Berawal dari buku-buku tersebut aku jadi mulai keranjingan sama bahasa Inggris. Aku dengan cepat hafal berbagai kosa kata dalam bahasa Inggris, padahal waktu itu usiaku baru 3 tahun. “Kamu tau darimana? Kamu kan masih 3 tahun, mana inget!” Ingetlah, kan Bapak ku sering cerita, wek!

Jaman dulu, bahasa Inggris belum banget ngetren kayak jaman now, dan belum menjadi sebuah kebutuhan. Di sekolahpun aku baru bisa mendapat pelajaran bahasa Inggris dikelas 3 SD. Karena aku dari kecil anaknya jelalatan sama hal-hal yang anti-mainstrim, makanya saat anak-anak lain gak begitu minat sama bahasa Inggris aku malah keranjingan nya minta ampun, itulah mengapa aku lebih mudah menyerap bahasa Inggris ketimbang teman-teman yang lain waktu itu.

Aku gak pinter, tapi aku sedikit lebih rajin belajar dari temen-temen yang lain. Meski lebih rajin, nyata nya ada aja temen yang –menurutku sakti– tanpa repot-repot belajar nilai nya selalu cemerlang. Kadang temen yang kayak gini nih yang sering bikin nganan-ngiri. Gimana pun cara nya aku berusaha tetep bersyukur, meski dengan cara yang berbeda dan sedikit lebih ngoyo, sesekali aku bisa sih mengimbangi temen-temen yang sakti kayak tadi. Terus untung nya apa? Gak ada sih, namanya aja masih anak-anak, yang di kejar kadang bukan sesuatu yang cukup worth untuk diperjuangkan.

Ketika anak-anak sakti belajar seperlunya, aku malah berjuang keras belajar giat di tengah keterbatasan perekonomian keluarga ku saat itu. Waktu itu dikelas ada sebuah lembaga kursus bahasa Inggris yang datang kesekolah kami, biasalah, yang namanya anak-anak musim mangga pengen mangga, musim sunat pengen sunat. Saat itu temen-temen berbondong-bondong mendaftarkan diri ke lembaga kursus tersebut. Begitu pula aku, niatnya begitu. Aku minta les bahasa Inggris sama mama’, tapi gak boleh dengan alasan mama’ gak punya duit buat bayar bulanannya, lagipula tempatnya jauh, harus naik angkot dua kali. Aku sedih banget, dalam satu kelas cuma aku doang yang gak ikut les tersebut. Tapi ya gak apa-apa, aku ngertiin mama’ kok. Aku pikir, aku masih bisa belajar sendiri, pake buku-buku yang sering dibeliin Bapak, itu sudah cukup. Aku cukup tabah kok, palingan waktu itu aku cuma nangis gak karuan, sesenggukan gigit bantal biar gak ketauan.

Rupanya hingar-bingar kursus bahasa Inggris dikalangan teman sekelasku gak bertahan lama, banyak yang berhenti, dengan alasan bosen dan ada juga katanya gak ngerti-ngerti, gak tau kenapa. Anehnya, dikelas, pada saat ulangan, maupun pas trimesteran (dulu namanya THB, tiap 3 bulan dalam 1 tahun) aku malah mendapat nilai bahasa Inggris terbaik di kelasku, meski tanpa les.

“Bakat itu adalah kemampuan dasar seseorang untuk belajar dalam tempo yang relatif pendek bila dibandingkan orang lain, namun justru hasilnya lebih baik. Bakat itu merupakan potensi yang dimiliki oleh seseorang sebagai bawaan sejak lahir” –Unknown–

Entah apa ini bisa disebut bakat, masalahnya aku pas lahir gak langsung bisa bahasa Inggris. Kemampuan bahasa Inggris yang aku miliki sekarang gak instan, semua di peroleh dengan perjuangan dan cucuran air mata, yaelah.. Tapi asli nya aku memang gak punya bakat apa-apa sih, cerita di atas cuma kamuflase. Kalaupun punya, aku pasti udah ikutan acara Tangerang Mencari Bakat, menang audisi, terus jadi artis, pake jilbab, terus bilang “aku memang pesek, tapi aku gak boros oksigen kok”

Bakat atau bukan, aku bersyukur aja. Ini semua membuktikan bahwa aku bisa berjuang untuk mendapatkan apa yang aku inginkan gak melulu harus pake uang –yang saat itu belum ada–. Gak perlu sampai memaksa diri. Kasihan sama orang tua, yang pontang-panting cari duit udah kayak apa tau. Bersyukur aja dengan memanfaatkan apa yang sudah di punya agar bisa mencapai impian. Gak masalah ketika orang lain hanya butuh beberapa langkah, sedangkan aku butuh ribuan langkah untuk mencapai impian ku, bahkan hitungan jarak jauh atau dekat menuju ke masjid saja dihitung pahala per-langkahnya oleh Allah. See, enjoy aja, hati-hati sama yang instan, nikmati saja perjuangan ini.

Begitulah, dari masa ke masa aku asli nya gak nyadar kalau passion ku ternyata ada di mata pelajaran ini. Soalnya selain bahasa Inggris waktu SD aku juga suka pelajaran IPA, pas masuk SMP aku suka biologi dan Kesenian, sampe pernah ikut ekstrakurikuler Paduan Suara, nyanyi-nyanyi gak jelas gitu dan yang paling aku inget dari ekskul itu adalah aku ternyata satu ekskul sama kakak kelas, yang sekarang udah jadi artis papan atas, dia yang mancung itu pokoknya, bukan yang pesek. 

Pas masuk SMK juga aku masih cuek, dimana sih minatku sesungguhnya, lagi-lagi aku coba-coba yang anti-mainstrim, aku akhirnya ambil jurusan Multimedia, karena kebetulan aku suka gambar dan suka bikin ide cerita. Di masa ini aku mulai tertarik kembali sama bahasa Inggris, gegara ada seorang guru yang kocak banget pas ngajar full pake bahasa Inggris. Ketika yang laen sebel sama guru itu karena cara ngajarnya yang full bahasa Inggris, justru aku malah paham bener dan suka sama cara bu guru tersebut. Sampe pas mau kuliah, dengan segala kegalauan aku ambil jurusan sastra Inggris akhirnya, dan suka bahasa Inggris sampai dengan sekarang. 

Pertanyaannya, berapa kali kah aku menuliskan kata “(a)ku” dan “bahasa Inggris” dalam tulisan ini? Gak usah di hitung ya. Aku aja males ngitungnya, bikin mata bruwet.

Heee, becandaaa..

HENNY F LESTARI