TITIK BALIK




Setelah aku berhenti bekerja, ada hikmah buat kami sekeluarga. Setelah lewat masa job training 3 bulan, suami naik gaji, yang kalau dihitung-hitung setara dengan jumlah gaji suami digabung gajiku ketika aku masih bekerja, dan lebih barakah menurutku, karena saat ini keuangan lebih terencana. Aku memillih fokus menjadi staf finansial pribadi dari suami tercinta. Lebih enjoy, lebih happy.

Allah itu maha besar, masalah gaji suami itu urusan sangat sepele sekali bagi Allah. “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: ayat 2-3)

Aku baru sadar bahwa tugas utama seorang istri adalah “Ummu Warobatul Bait ” ibu dan pengatur Rumah Tangga. Jika tugas utama seorang istri terabaikan dengan aktifitas mubahnya -yaitu bekerja- maka hukum bekerja menjadi tidak diperbolehkan dan Allah membencinya. Karena jika hilang fungsi istri dan seorang ibu maka kehancuran generasi sudah menjadi suatu kepastian, karena ibu adalah madrasatul ula -pendidikan pertama dan utama- bagi anak-anaknya.

Kalau saja energi dan keahlianku mumpuni, siapa sih gak pingin jadi wanita bekerja, bahkan banyak dianjurkan karena mencerminkan wanita cerdas yang mandiri, sama-sama mulianya di mata Allah SWT, apalagi jika suami ridho dan anak bisa terhandel dengan baik. Bagiku pribadi secara fisik dan mental mereka adalah wanita hebat luar biasa. Hanya saja dalam kasusku ini, anggaplah aku gak berbakat menjadi seorang ibu bekerja ketika anak dan suami masih butuh perhatian ekstra.

Karena sejatinya, ibu itu sudah pasti bekerja. Sebagian bekerja di ranah domestik, sebagian lagi bekerja diranah publik, keduanya sama mulianya.

0 Comments