TRIP SERIES : KEBUN TEH PUNCAK, BOGOR – JAWA BARAT





Suatu Hari di Bumi, Bagian Barat Pulau Jawa. Kala itu senja, kau dan aku baru saja menginjakan kaki ditempat yang baru ini. Udara segar, tampilan alam yang hijau, jauh dari keriuhan ibukota, tepat sekali menjadi pelepas rindu kami akan pemandangan hijau nan sejuk. Kenangan lalu, saat di Baturraden pun kembali berputar. yang kehijauannya selalu membuat kami rindu situasi serupa, maka terbayarlah kerinduan kami setibanya di sini, Puncak, Kabupaten Bogor.
.
Tssah.. sendu amat bahasanya. Kali ini, lagi-lagi ketika iseng buka arsip lama. Tulisan yang dibuat sekitar 3 tahun yang lalu ini rangkaian bahasa nya bener-bener ‘nggilani’ wkwkwk.. Pasalnya, ini dibuat pada zaman ketika saya masih alay dulu. Namanya aja masih mude, yeekan! Alay dikit gak apa-apa lah.

Kebun Teh Puncak, Kebun Raya Cibodas (Bogor)



Sore ini hujan turun ditambah udara yang dingin, mengingatkan akan kenangan jalan-jalan ke Puncak 2 bulan yang lalu. Jadi pengen honeymoon lagi deh *nyengir*

Mendadak si honey ngajak honeymoon di Puncak. Dikira naik kereta atau apa ternyata naik motor. Asiiiik, kangen banget jalan jauh naik motor. Trip kali ini judulnya ekono-mantis. Biar ekonomis berasa romantis wkwk.. Setelah packing-packing keperluan honeymoon nya, kamipun berangkat sekitar jam 9 pagi dengan titik awal rumah, serpong, pamulang, parung, bogor, ciawi and titik akhir puncak finaly.

Setelah ngeeeeng.. ngeeeeng.. dan brumm.. brumm.. Sampailah kami di Puncak.

Menikmati udara segar, melihat pemandangan alam yang hijau dan jauh dari keriuhan ibukota memang pas sekali menjadi pelepas rindu kami akan pemandangan hijau dan sejuk. Terakhir memang kami sempat mengunjungi wisata Baturraden yang kehijauannya selalu membuat kami rindu situasi serupa, maka terbayarlah kerinduan kami setibanya di Puncak.



Sebelum sampai tepat di "Puncak" hujan sempat turun cukup deras kamipun menepi disebuah warung kecil dipinggiran jalan raya, sembari istirahat sebentar untuk meluruskan kaki yang mulai terasa pegal sekaligus mengisi kerongkongan yang mulai kering dengan air, kamipun segera memesan secangkir kopi dan makan semangkuk mie goyeng, lumayan menghangatkan badan kami yang kedinginan oleh udara dataran tinggi yang eksrim ditambah guyuran hujan lebat disekeliling warung tersebut. Subhanallah, berada ditempat itu saja sudah segini indahnya. Mungkin begini cara saya mendeskripsikan tempat tersebut,

Melanjutkan perjalanan, selepas Ciawi mengarah ke Puncak mulai terasa angin yang sangat dingin menusuk kulit padahal kami mengenakan jaket double. Makin mengarah atas menuju Puncak, udara dingin terasa menusuk, badanpun makin menggigil. Si pak supirpun kece pun  beberapa kali ia harus merilekskan tangannya dengan dikepal-kepalkan. Saat itu pukul 2 atau 3 sore (apa siang ya? he?) namun udara serta cuaca puncak membuat hari terlihat lebih gelap. Pokoknya kalu di Tangerang tuh cuaca kaya gini berasa udah jam 5 atau jam 6 sore gitu, weew..

Sekitar jam 3 sore kami tiba di  tepat di Puncak. Dalam rangka honeymoon kami menghabiskan waktu 2 hari 1 malam yaitu Sabtu dan Minggu, maka hal pertama yang kami tuju adalah semacam tempat menginap yang murah meriah namun tetap membuat kami feel like home. Di sisi kiri dan kanan jalanan menuju kawasan Puncak ini, banyak sekali terlihat orang yang membawa papan berukuran kecil serta senter, tulisan di papan itu adalah ‘Villa/kamar disewakan’ dan mereka adalah semacam calo yang menawarkan jasa. Karena ini kali pertama bagi kami menyambangi Puncak awaalnya kami agak bingung akan menginap dimana. Tapi alhamdulillah kami mendapatkan losmen yang lumayan asik tapi tetep terjangkau. Ruang kamar dengan fasilitas tempat tidur, TV, alat-alat nge-teh, kamar mandi unik seharga Rp. 250. 000/kamar, sudah lumayan Ehem.. *mesem*

Setelah usai melepas lelah sebentar, sudah bobo, sudah mandi, sudah mam, sudah sholat, akupun merengek ke si honey untuk segera jalan-jalan menikmati suasana Puncak di sore hari. Saat itu waktu menunjukan pukul 5, akhirnya honey mengajakku jjs, yeay..



Eh, sedikit cerita nih tentang mandi di Puncak. Dinginnya itu masyaAllah gak karuan. Bayangkan dengan baju double empat lapis saja saya masih merasa dingin sampai seluruh tubuh gemetar, padahal itu berada didalam kamar, hawa di luar ruangan dua kali lipatnya lagi lho. Apalagi harus mandi dengan air yang dinginnya kaya lagi ikut ice bucket challenge wkwkwk.. gak pagi, gak siang, gak sore lebih ekstrim lagi dimalam hari, sampai sulit buat bobo nyenyak karena dikit-dikit pipis hehehe.. 

Kembali ke laptop, jjs kami jatuhkan pilihan pada kawasan Puncak Pass, tepatnya di dekat restoran Rindu alam 1, terlihat banyak sekali kendaraan baik mobil maupun motor yang diparkir di tempat ini. Kamipun segera mencari tempat untuk memarkir motor, banyak sekali rombongan anak-anak muda yang sedang menikmati dinginnya suasana malam di tempat ini, yang banyak terlihat juga tentu saja pasangan muda-mudi yang terlihat saling selfie, tak ingin kalah akupun saking semangatnya berlari untuk ber-selfie ria dengan senjata andalan yaitu digicam dan tongsis *poseposegakjelas*

Puas foto-foto kemudian kami masuk ke sebuah warung, dari penampilan sangatlah biasa dan makanan yang disajikanpun sangat umum, kami memesan satu porsi nasi goreng, satu porsi nasi timbel, dan 2 gelas teh manis hangat seharga Rp. 60.000.

Selepas kenyang dan ngantuk kami bergegas beristirahat menuju penginapan, setelah sebelumnya mencari pom bensin yang jauhnya gak karuan, weleh..

Day One, done!

Bangun-bangun si honey tau-tau udah keliling nyari sarapan, curang deh gak ajak-ajak. Pasti seru bisa olahraga pagi tuh. Kami sarapan dengan dua bungkus nasi uduk -yang kata sipenjualnya- spesial seharga Rp. 22.000, lalu lanjut berwisata mengikuti kaki melangkah.

Bosan berkeliling kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Kebun Teh di daerah Puncak dengan htm Rp. 5000/org. Sepanjang mata memandang hanya warna hijau yang terlihat. Sambil menikmati pemandangan, seperti biasa kami pun kembali berselfie sambil becanda mesra gitu, mumpung latar nya nyess *narinarigakjelas* Setelah puas berkejar-kejaran ala film bollywood di kebun teh, kami memutuskan untuk mengunjungi tempat wisata lainnya. 



Setelah sebelumnya galau mau kemana lagi (talaga warna atau taman bunga atau.. de el el) finaly kami memutuskan untuk menuju ke Taman Raya Cibodas. Dengan htm Rp. 15.000/org, bayar lagi parkir Rp. 7000 dan ternyata ada retribusi Rp. 8000 wkwkwk.. Kenapa gak dijadiin satu sekalian ya, jadi Rp. 30.000/org gitu. Jadi gak bikin pengunjung linglung *cumasaran*

Di Taman Raya Cibodas, saya gak terlalu menikmati suasana dikarenakan si Honey sepertinya sedang kurang fit. kami hanya numpang istirahat leyeh-leyeh sebentar untuk kemudian kami bergegas kembali ke penginapan untuk mengobati si gantengku. Gak apa lah, semoga kelak kami bisa kembali menjejakan kaki disini lagi dengan kondisi badan yang lebih prima.



Waktu menunjukan pukul 12 siang, kami tiba dipenginapan untuk kemudian minum obat dan tidur. Alhamdulillah, terbangun dari tidur di jam 2 si ayang Honey udah seger lagi dan bisa mesra-mesraan lagi *nyengir* Kami memutuskan untuk pulang ke Tangerang karena sudah sangat rindu dengan hangatnya sinar mentari. Setelah mandi, makan dan berkemas kamipun capcus meninggalkan kamar, suasana dan kenangan indah di tempat itu. Bye bye Puncak.. *mewek*



Enggan meninggalkan Puncak begiu saja, kami sempat merekam beberapa momen dari awal sampai akhir perjalanan pulang.

*kretekkretek* pegel jariku.

Oke lanjut lagi, ehh.. tapi udah deh selesai perjalanan kami. Pokoknya ujug-ujug udah nyampe Tangerang dan tepar, nyiiihaaa *nyengirkuda*

Day two, done!

Nantikan jalan-jalan kami selanjutnya ya, aauuu...

-Henny Pika-Pika-

0 Comments