MEMAKAI CELANA SENDIRI



Sebelum saya bercerita, ada kisah apa hari ini, ijin sedikit mengalirkan rasa,

Rayyan adalah anak yang, menurut saya, cukup mandiri. Berikut adalah daftar pencapaian Rayyan sebagai pengingat saya, bahwa Rayyan sudah banyak berusaha keras menjadi anak yang baik, dan tugas betapa saya harus concern dalam menjaga fitrah baiknya.

1. Ia sudah bisa rutin BAB dan BAK di toilet serta cebok sendiri.
2. Menaruh gelas susu habis pakai ke tempat cucian piring
3. Mengambil minum sendiri
4. Menaruh pakaian kotor di tempatnya
5. Membuang sampah pada tempatnya
6. Memakai dan melepas sepatu dan kaus kaki sendiri
7. Melepas baju (baru jenis kaos saja)
8. Berangkat sekolah dan berangkat ngaji sendiri (jarak 15 meter dari rumah)
9. Sikat gigi sendiri
10. Pakai celana sendiri
11. dsb. (kelak kalo inget, akan saya lengkapi dalam list reminder ini)

Nah, semua pencapaian di atas, yang tadinya sudah saya tandai sebagai ‘done list’ ternyata beberapa waktu terakhir ini membuat saya berfikir, ternyata gak cukup dengan ‘melatih-lalu berhasil’ saja, ternyata tanggung jawab kami lebih berat dari itu. Nyatanya kami perlu ‘menjaga’ agar segala pencapaian yang telah didapat tak lantas hanya menjadi rekaman semata.

MELINGKAR DAN MEKAR


Bak pemadam kebakaran, kami selaku orang tua selalu gerak cepat bereaksi ketika mendengar anak merengek dan menangis. Puncaknya hari ini, kami menyadari kesalahan kami.



Ketika Rayyan menangis atau merengek, saya dan si Ayah biasanya langsung menghampiri dan bereaksi (baik positif maupun negatif) seperti menyahut “iya sayang ada apa?” atau memarahi dengan nada agak tinggi, sehingga hal tersebut juga menciptakan beberapa bad habit pada Rayyan, ia tumbuh menjadi anak yang kurang sabar dan emosian. KAMI ORANG TUA, ADALAH TELADAN, dan kami sering lalai mengenai hal tersebut.


Hari ini Rayyan kembali mengulang masa ‘tantrum’ hebat -nya. Ketika ia hendak meminta mengambilkan mainannya yang tertinggal dirumah temannya. Berhubung sudah malam, dan tak mungkin mengganggu tetangga hanya karena ingin mengambil sebuah mainan yang ketinggalan, kami menjelaskan kepada Rayyan apa adanya bahwa ini sudah malam, dan tidak baik mengganggu tetangga malam-malam.

Rayyan tidak menerima jawaban kami dengan baik. Ia mulai pandai berpura-pura menangis dan berteriak sejadi-jadi nya bahwa mainan tersebut harus diambil sekarang juga. Saya sedih sekali, sesungguhnya Rayyan adalah anak yang sangat baik, pengertian dan penyayang, terlebih ketika saya ingat, ia selalu menghapus air mata saya ketika ia memergoki saya sedang menangis sendirian. Seperti rasanya hancur sudah apa yang sudah saya investasikan didiri anak ini ketika melihatnya berteriak-teriak, seperti bukan Rayyan, anak yang biasanya penuh kasih sayang.

Itulah mengapa, malam ini saya brainstorming, bahwa apa yang selama ini sudah saya tanam, sudah saya tuai pula buahnya (mekar), nyatanya harus saya jaga pula pohonnya. Proses berlatih harus terus berlanjut memutar (melingkar), menjaga fitrah baik yang telah terbentuk.

Delapan poin fitrah baik yang dimiliki Rayyan, insyaaAllah secara acak akan menjadi objek saya dalam berproses di game melatih kemandirian selama sebulan ini. Semoga Allah mudahkan, semoga beri keberuntungan, menemukan hal mengagumkan lainnya.

MEMAKAI CELANA SENDIRI


Ini adalah salah satu pertanyaan besar saya akhir-akhir ini:

Jika saya tantang Rayyan untuk pakai celana sendiri, dia sudah bisa, meski belum rapih, tapi kenapa dalam keseharian nya ia tidak mau memakai celana nya sendiri. Alih-alih langsung memakai celana sendiri setelah BAK dikamar mandi, dia malah mengantarkan celana nya ke saya dan berkata dengan manis sekali “tolong ya, Nda” sehingga saya selalu meleleh, luluh untuk membantunya memakaikan celana. Sehingga ia hapal benar dan memanfaatkan momen, membentuk pola “jika aku mengucapkan tolong, bunda akan selalu membantu = aku tidak perlu memakai celana sendiri.

Untuk hari ini saya belum menemukan rule yang tepat untuk diberlakukan dirumah perihal melatih Rayyan memakai celana nya sendiri.

Baiklah, kita lihat besok. Semoga Allah memampukan, semoga Allah memudahkan.

#hari2
#gamelevel2
#tantangan10 hari
#melatihkemandirian
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional

0 Comments