“Assalamualaikum, Bundaaaaa”

Terdengar suara imut Rayyan dari luar pintu rumah. Ia baru saja pulang mengaji bersama kawan sepermainannya, Uce.

“Walaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh.. Eh, anak bunda sudah pulang. Sini Nak, salim Nak..” sahut saya, keluar dari arah dapur dan hendak menghampirinya yang sedang melepas tas dan melepas kopiahnya.

“Dedek kok keliatan seneng bener sih? Bunda mau dong ikutan seneng, belajar apa tadi sama Umi (sebutan untuk guru ngajinya)?” Tanya saya, mencoba menerapkan kaidah komunikasi produktif MENGGANTI KALIMAT INTEROGASI DENGAN PERNYATAAN OBSERVASI.

Eh, baru sadar. Ternyata kalimat saya diatas belum masuk kriteria PERNYATAAN observasi, karena saya masih membuat kalimat tersebut dengan bentuk kalimat pertanyaan, ding! Hihihi.. Emak masih keder..

Namun bentuk kalimat diatas mendapat tanggapan berbeda,
“Tadi, tadi, dedek main sama temen-temen Nda, dedek pinjem pensilnya Fikli, telus, telus dedek solawatan gini sama Umi: jiblil, mikail, islofil, isloil, mungkal, nangkil, lokib, atit, malik, ribuan..” ucapnya ceriwis, antusias sekali.

Berbeda jawabannya dengan hari-hari sebelumnya, ketika saya bertanya dengan kalimat yang terkesan menginterogasi.

Seperti hari kemarin saya bertanya, “Diajarin apa tadi sama Umi?”. Biasanya ia tidak akan menjawab pertanyaan saya tersebut, malah beralih mengajak saya membicarakan hal lain, diluar hal tentang mengaji. 

Sungguuuuh, anak-anak memiliki gaya komunikasi yang unik, bikin gemas!

Semoga saya selaku orang tua, diberi kesabaran yang luas, diberi kelapangan hati dan pikiran dalam menerapkan banyak hal baik ditengah hebohnya membersamai Rayyan, si bocah sehat, shalih, muslih.

#hari10
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional