PERIHAL : TEMAN

Pernah muda, gila, dan banyak gaya *gak lagi-lagi

Aku dari kecil suka banget main. Apalagi kumpul-kumpul sama temen. Temenku banyak banget. Waktu TK, punya temen tuh bikin aku semangat tiap hari biar bisa bangun pagi, karena aku anaknya kebluk sejak kecil.

Waktu SD, aku suka belajar dan dengan adanya temen aku jadi termotivasi selalu masuk 3 besar sampai kelas 6 SD.

Masuk SMP temenku makin banyak, sampek punya genk segala, saat itu temenku banyakan cowok dan dengan begitu banyak teman yang aku miliki aku terus termotivasi untuk bisa terus dapetin nilai bagus.

Lain lagi saat SMA, aku lebih suka jadi pribadi yang pendiam, lebih suka main sendiri daripada kumpul sama temen-temen. Aku lebih suka baca komik atau bikin gambar-gambar anime gitu. Di masa ini, entahlah, aku merasa kurang cocok sama temen-temen ku ini. Aku ini orangnya kepo-an sama hal-hal yang menurut orang lain gak penting. Contohnya gini, kenapa sih duduk di tengah pintu itu pamali? Pamali itu siapa? Kok disegani bener kayaknya? Apakah dia pahlawan negara? Kok gak pernah dibahas sama bu guru. Dan temen yang ku tanya hal yang menurutku krusial itu semua pergi, dan aku tinggal sendiri.

Aku tau banget, sebagai seorang cewek aku itu emang anaknya agak aneh. Aku punya minat yang berbeda sebagaimana halnya temen-temen cewek lainnya. Pokoknya apa yang disuka anak-anak cewek saat itu, aku malah gak suka, aku merasa gak cocok, dan memilih asik diduniaku sendiri.

Pernah ada beberapa teman yang akhirnya ngelabrak dan bilang kalau aku anaknya aneh, sejak saat itu aku sadar kalau aku itu memang aneh, dan ya udah seterusnya aku tetep aneh, ya mau gimana lagi, udah bakat sih.

Selain fisik yang gak ada cewek-ceweknya, cara bicaraku yang terlampau cepat dan garing juga kurang disukai beberapa teman-teman. Aku tau banget, gak semua teman bisa memaklumi kekurangan orang lain, gak semua orang mau peduli sama kelebihan orang lain dan itu semua sudah cukup membuatku paham bahwa gak semua teman adalah sebenar-benarnya teman.

Tapi ya gak apalah, ada hikmahnya, di masa ini aku malah ketemu temen baru, wawasannya luas, di tanya apa aja udah pasti ada jawabannya, dan dia gak pernah bilang aku aneh, keren kan. Sejak ada Gugel, aku gak pernah repot-repot lagi nanya sama temen yang malah gak pernah jawab pertanyaanku. Terimakasih Gugel.

“There are three types of friends: those like food, without which you can’t live, those like medicine, which you need occasionally and those like an illness, which you never want.”
-Unknown-

Bicara tentang teman, apa sih yang ada di benak orang-orang kalau di tanya definisinya? Aku sendiri menemukan jawaban yang pas (buat diri sendiri). Seperti yang dikatakan kutipannya Mr. Unknown diatas (wkwkwk..) bahwa teman itu rupa-rupa warnanya ada yang seperti makanan yang tanpa adanya mereka kita tak bisa hidup, ada yang seperti obat yang keberadaannya kita butuhkan sesekali, ada yang seperti penyakit yang tidak pernah kita inginkan sama sekali.

Aku pernah menemukan ketiganya, padahal sebelumnya aku begitu mempercayai bahwa teman sudah pasti baik. Sebegitu bapernya diriku sampai aku dikecewakan sama teman yang itu lagi, itu lagi. Akhirnya aku sadar bahwa gak semua teman punya motivasi yang sama dalam menjalin sebuah pertemanan.

Diusia yang hampir tua ini, aku masih punya teman-teman yang baik. Usia pertemanan kami yang sudah cukup lama ini rupanya eksistensinya benar-benar sudah teruji. Meski hubungan pertemanan kami gak melulu isinya cuma hanya hal-hal baik aja, itu sih muna’ namanya ya hehe.. Kadang juga diwarnai dengan pertengkaran dan banyak juga aksi heroiknya. Pokoknya sama mereka aku baper, mereka itu so sweet dan gak semua teman yang ku temui tulus seperti mereka. 

Akan kuceritakan beberapa tentang mereka, tapi maaf jika tak kusebutkan namanya, belom ijin soalnya aku takut di anfren wkwkwk.. Gak mungkin di unfriend juga sih, aku percaya mereka orangnya cukup open-minded kok. Ku ceritakan yang dua orang ini dulu, sebut saja Mawar dan Melati dengan keduanya aku sudah berteman sejak TK. Ini juga yang menjadi alasan mengapa pertemanan kami masih terjaga karena ‘waktu’ adalah filter alami dalam sebuah hubungan.

Mawar, temenku yang satu ini orangnya peduli-an, gak sama aku doang, itu emang sudah karakternya dari sananya. Bahkan saking pedulinya sama orang lain, kebaikan yang dia miliki pernah dimanfaatkan sama temen-temen yang gak bertanggung jawab, tapi dia orangnya gak dendam-an. Keren kan. Ada lagi, salah satu sifatnya yang kupikir menurutku itu bagus adalah dia orangnya super gaul dan aktif, dan pinter cari duit, wawasan nya juga luas. Dia satu-satu nya teman yang sering banget ngajak jalan-jalan melulu. Cihuy lah pokoknya.

Melati, lain lagi temenku yang satu ini. Dia orangnya super bawel, menurutku itu kelebihan ya, karena dengan kehadiran dia, segala suasana jadi rame. Kerennya lagi dia orangnya nekat, mengingat jiwa gadis jawa (timuran) mengalir di darahnya. Aku pernah beberapa kali diajak nekat jalan-jalan naik bis, naik kereta, jauh banget tanpa tau tujuan mau kemana, dan gara-gara itu aku jadi bersyukur aja, tanpa dia aku gak punya pengalaman gokil kayak gitu. Sayangnya bentar lagi dia bakal hijrah ke Pulau Borneo bersama suami dan babynya. Aku sedih, tapi menurutku itu kesempatan yang baik. Semoga sehat selalu ya kawan. 

Menceritakan tentang kalian, aku jadi rindu, rindu masa muda kita yang gak karuan bentuknya. Masing-masing kita sudah punya buntut, bersyukur banget. Semoga dengan segala -apapun itu, gak jelas ini gue mau deskripsiin apa- yang penting aku bangga bisa menjalin persahabatan sebaik dan selama ini sama kalian, semoga hubungan baik ini longlast eeaa..


#seflhealing
#menulisuntukdirisendiri 

#tuntasdiri

HENNY F LESTARI

0 Comments