Pemandangan didepan kontrakan pertama, masih suasana pedesaan.


Setelah menikah, saya dan suami tidak langsung hidup mandiri, kami tinggal dirumah orang tua saya selama kurang lebih 2 tahun.

Saya pribadi merasa nyaman-nyaman saja tinggal dirumah (ortu) sendiri, namun ternyata suami merasa kurang nyaman tinggal bersama mertuanya. Bukan karena terjadi konflik antara mereka, bukan!

Suami adalah orang yang terbiasa hidup mandiri sejak kecil, sehingga ketika saya ajak tinggal dirumah ortu saya, ia malah canggung, serba malu ngapa-ngapain, makan pun kadang gak ketelen, ya karena masalah itu tadi, suami sangat sungkan merepotkan kedua orang tua saya.

Dan ketika saya menyadari nya, saya segera mengajaknya hidup mandiri terpisah dari orangtua. Mengapa suami tidak pernah menggagas ide tinggal terpisah, karena saat itu ia tidak percaya diri bisa menghidupi saya dengan layak jika hidup mandiri. Dan inilah tugas istri, tuntutlah, doronglah, mintalah, memanjalah pada suami, agar ia bangkit fitrah kelelakiannya dalam mengimami keluarga.


NGONTRAK PERTAMA KALI

Menikah pada Agustus 2014 kemudian memutuskan mandiri pada Agustus 2016, saat itu bertepatan dengan suami mendapat pekerjaan baru di daerah Dumpit. Alhamdulillah, kami mengontrak persis tepat disebelah gedung perusahaan tempat suami bekerja, sehingga ini merupakan awal permulaan yang baik untuk memulai berhemat dan mengatur ulang urusan finansial saat itu.

Alhamdulillah, momen ngontrak pertama kali ini suami menghadiahi beberapa furniture rumah tangga yang belum sempat ia belikan pada saat kami masih tinggal dengan orang tua. Karena dulu pertimbangannya, tidak ada space cukup untuk barang-barang rumah tangga tersebut dirumah orangtua kami.

Pun suami yang meminta saya untuk memilih perabot yang saya sukai seperti : kulkas, mesin cuci, tungku gas, blender, televisi, lemari baju, buffet, tempat tidur, rak dapur dan aneka kelengkapan dapur, sampai cobekpun di suruh nya kubeli.

Saat itu kami hanya membeli barang-barang primer saja, mengingat kami yang masih belajar mengatur finansial. Prinsipnya, yang penting sandang, pangan dan papan terpenuhi. Selebihnya ia ingin saya –si anak manja– bisa percaya diri memulai hidup mandiri sebagai seorang ‘ratu’ pengatur rumah tangga-nya.

Rumah kontrakan yang kami tempati saat itu cukup unik, kami tinggal di lantai bawah sebuah rumah yang berdiri tunggal, sedang diatasnya dibangun sebuah rumah yang ditempati oleh pemiliknya.

Hikmahnya, saya mudah mencari sang ibu kontrakan jika dibutuhkan. Juga saya gak banyak konflik dengan tetangga masalah bayar listrik, dll, karena memang gak punya tetangga kanan kiri. Ini salah satu nikmat, karena saat itu saya belum siap bertetangga wkwkwk..

Etapi, di seberang jalan ada juga kok beberapa tetangga. Masya Allah nya mereka baik-baik, saya sering sekali di antarkan makanan oleh beliau-beliau. Terlebih jika ada acara special yang diselenggarakan di situ, saya sering diajak ikut serta, seolah saya sangat diperhatikan, saya jadi baper, maklum dari kecil gak pernah berasa punya tetangga. Semoga Allah membalas kebaikan mereka dengan kebaikan pula.

Lingkungan rumah kontrakan kami sangat sejuk, karena dekat dengan pedesaan banyak lahan kosong yang ditumbuhi rerumputan hijau dan pohon-pohon yang menjulang tinggi. Setiap pagi-pun selalu disuguhi pemandangan kabut putih yang bikin rindu kampung halaman di Jawa.

Biaya mengontrak saat itu lumayan murah, hanya 550rb per bulan, mengingat rumah yang kami tinggali tidak seperti rumah kontrakan yang biasa berukuran rumah dibagi dua (atau bahkan dibagi tiga). Biaya listrikpun tidak sampai 50rb sebulan, sedang biaya air gratis dari sang empunya rumah, Lagi-lagi kami sangat beruntung, dimudahkan dalam belajar hidup mandiri.

Setahun mengontrak di lingkungan tersebut, suami pindah kerja, yang mengharuskan kami kembali pindah ketempat baru pula. Meninggalkan banyak kenyamanan dan kenangan indah yang kuukir bersama Rayyan di setiap perjalanan menuju rumah orang tuaku.


NGONTRAK PART II

Kali ini kami mengontrak rumah dekat dengan orangtua saya. Lucu sih sebenarnya, kami kembali kelingkungan yang sempat kami tinggalkan 1 tahun lamanya.

Lagi, kami beruntung mendapat rumah kontrakan yang baru saja dibangun. Cat nya masih baru, bangunannya pun baru. Sungguh membuat mood terasa baik untuk segera menambah perabotan baru qiqiqi..

Kontrakan ini hanya berjarak 2 rumah dari rumah ortu ku. Dengan tarif 500rb, saya mendapat jenis rumah dibagi 2 namun ukurannya lebih besar dari belahan kontrakan disampingnya.

Beruntungnya lagi, kontrakan tersebut milik Ibu Kontrakan yang dikenal dermawan, hampir setiap bulan ada saja yang ia hadiahkan untuk para penghuni kontrakan nya. Setiap ia pergi umrohpun, ia tak lupa mendoakan kami para penghuni kontrakan miliknya agar ketika pindah dari kontrakan nya adalah karena sebab telah memiliki rumah sendiri. Aamin ya Bu, semoga terwujud..

Minusnya, dilingkungan ini, adalah lingkungan terburuk yang pernah saya rasakan, takkan saya ceritakan seburuk apa bertetangga dilingkungan ini, dan hanya bisa berdoa bisa segera hijrah ke lingkungan yang lebih baik untuk masa depan Rayyan dan keluarga kami.

“Allah beri kita hal yang kecil agar kita pandai bersyukur dan telaten menjaga. Agar kelak gak gampang norak saat di anugerahi sesuatu yang lebih besar”

Dua tahun berlalu, Alhamdulillah, mulai bulan depan InsyaAllah kami mulai pindah kembali, ke lingkungan baru, bukan untuk kembali mengontrak tapi untuk menempati rumah baru kami. Masya Allah Tabarakallah. Semoga dimudahkan dan dilancarkan segala sesuatunya.


TIPS NGONTRAK RUMAH BERDASAR PENGALAMAN PRIBADI

1. PERSIAPKAN KEUANGAN, saya pribadi malah baru belajar kutak-kutik keuangan saat sudah menempati rumah kontrakan. Gak masalah sebenernya, karena keahlian itu terbentuk seiring berjalannya waktu. Namun, akan lebih terprogram dan meminimalisir pemborosan mulailah belajar siap-siap anggarkan keuangan bulanan, seperti membaginya kedalam pos-pos khusus : 50% biaya hidup, 30% tagihan bulanan, 10% tabungan dan 10% dana sosial lainnya.

2. OBSERVASI LINGKUNGAN SEKITAR, inipun berlaku saat memilih rumah tinggal permanen ya sepertinya. Meski mengontrak itu sifatnya sementara, namun menghiraukan bagaimana lingkungan sekitar tempat tinggal juga perlu, demi kenyamanan dan penyesuaian diri, terlebih jika sudah ada anak, lingkungan akan ikut membentuk karakter anak dimasa depan, krusial sekali.

3. BELI FURNITURE SESUAI KEBUTUHAN, kemarin itu saya rupanya kalap membeli banyak barang, sadar-sadar saat mau pindah ke kontrakan baru, duh.. repotnya! Terlalu banyak furniture membuatkan kami kesusahan mengangkut banyak barang, ribet deh pokoknya apalagi ketika harus menyusun ulang barang di tempat baru, bikin kapok pndah kontrakan lagi. Namun hikmahnya, kami tidak berniat pindah, kecuali dengan alasan pindah ke rumah permanen.


ALASAN MENGAPA LEBIH BAIK NGONTRAK RUMAH SENDIRI

1. TERITORIAL PRIBADI, kita bebas mengatur segala hal dirumah tanpa menyakiti siapapun, dan itulah salah satu tujuan suami ingin hidup mandiri. Suami bilang masakan saya memiliki rasa yang lezat dan punya khas semenjak rajin memasak didapur sendiri. Saya memang malas memasak ketika ada masih tinggal dengan mama, karena gak pede masak.

Pun ketika ada sedikit pertengkaran kecil, bisa segera di atasi bersama dan lebih lekas rukun kembali tanpa campur tangan pihak lain yang belum tentu paham seberapa level kritis problematika yang kita jalani bersama pasangan. 

2. SADAR KEBUTUHAN, waktu dirumah mama apa-apa sudah tersedia, saya dan suami cuma kasih uang bulanan saja yang ternyata nominal nya cuma 30% dari kebutuhan hidup sesungguhnya, ya Allah maafkan kami ya Pak, Buk.. Begitu baiknya beliau berdua yang selalu memanjakan kami, semoga dibalas dengan limpahan rejeki yang berkah, dan kami bisa selalu mendampingi, karena membalas kebaikan beliau tidaklah akan cukup, bahkan dengan dunia sekalipun. 

3. MENGEMBALIKAN FITRAH, saya merasa automatically tertuntun untuk mencapai peran istri dan ibu sesungguhnya. Sudah tak lagi peduli dengan banyak urusan dunia, mendadak menghidupkan ghirah sebagai seorang ‘Ummu warobatul bait’ (Manajer Rumah Tangga) dan ‘Ummu Madrasatul Ula’ (Pendidik Pertama).

Pun, dengan suami, ia merasa lebih semangat mencari nafkah dan meninggalkan banyak kemudharatan dirumah maupun ditempat ia bekerja, karena fitrah keayahannya yang terbentuk sejak menjadi ‘imam tunggal’ di keluarga kecil kami. Ia merasa sadar bahwa menjadi imam adalah menjadi tauladan bagi seluruh anggota keluarganya, Masya Allah, Tabarakallah untukmu Ayah..

4. REZEKI YANG DILAPANGKAN, percaya gak sih, jika rezeki dari Allah itu menyesuaikan kebutuhan hamba nya. Menurut pengalaman saya yang baru seumur jagung ini, ITU NYATA, setiap niat baik itu ada rejekinya sendiri, terutama ketika saya dan suami sepakat untuk menjalankan peran utama kami, Ayah sebagai satu-satunya imam dan pencari nafkah dan Ibu sebagai pendamping dan peneduh hati keluarga, Masya Allah, pintu rezeki dibuka oleh Allah dari sisi yang selalu mengejutkan kami, hamba yang kecil ini.

Logika manusia : Berjalan dengan dua kaki akan lebih cepat sampai tujuan.
Logika Allah : Satu kaki, dan sepasang sayap yang seimbang akan mudah menghindari bahaya dan punya banyak waktu untuk menikmati proses, belajar sabar tanpa fokus berapa lama akan bisa sampai ke tujuan.

Selalu ada rezeki yang datang disaat yang tepat maupun yang tidak disangka-sangka. Gak percaya? Cus, praktekin! 

HENNY F LESTARI