Ketika seorang kerabat berkata, “Wah Rayyan kecil-kecil sudah bisa meminta maaf dan berterimakasih ya?”

Atau ketika teman suami bertanya, “anakmu kata-katanya nya sudah fasih banget ya, anakku saja belum fasih ngomong”

Atau ketika seseorang yang baru saja bertemu, berkata, “Duh, ceriwis sekali, anaknya usia berapa tahun Mba?”

Atau ketika salah satu guru sekolahnya, berkata, “Rayyan anaknya cerewet banget Bu, apa-apa ditanyain, saya sampai keabisan ide buat jawab”

Atau ketika ortu murid berkata, “Gimana caranya biar anak otomatis baca bismillah tiap mau minum susu kaya Rayyan, Bun?”

Atau ketika mama tetangga menegur, “Aih, masih kecil sudah pintar bangun pagi, anakku mah jam 10 baru bangun”

Atau ketika Ayahnya adore saat Rayyan menegur, “ih Ayah jangan buang sampah sembarangan dong, nanti banyak semut, kena gigit lho!” “Ayah jangan main hape mulu dong, nanti bikin bodo lho!”

Atau ketika teman yang sedang berkunjung kerumah, “Ya ampun Mba, anakmu itu lho, habis numpahin air, langsung ambil kain lap buat bersihin tumpahan airnya sendiri, bikin gemes!”

Atau ketika seorang rekan bertanya, “Dibisikin apa sih Mba anaknya? Langsung sukarela gitu mau diajak pulang, padahal lagi asik main. Anakku susah banget nih disuruh pulang, malah ngamuk”

Atau ketika di sebuah acara keluarga, salah seorang kerabat  bertanya, “Rayyan kok gak ikutan lomba main hape sih kayak yang lain nih? Pusing saya liat anak-anak jaman sekarang”

Atau saat Rayyan sering kali mengucap “Dedek sayang Bunda, Sayang Ayah, tiba-tiba mencium dan memeluk

Rayyan tumbuh seperti anak-anak lelaki pada umumnya, sehat cerdas dan shalih versi saya, ibu nya. Semua nya balance kok, tak jarang juga kok ia membantah, jahil, mengacak-acak, memukul, berteriak, merajuk, ngeyel, (kadang) berkata agak kasar pada teman seusianya ketika sedang marah. Sama kok kaya anak-anak pada umumnya, dan itu sehat karena memang sisi egoisnya harus tuntas di usia nya sekarang ini.

Namun melalui tulisan ini, saya ingin meyakinkan diri saya bahwa, fokuslah saja pada fitrah baik anak. Fitrahnya sudah ada, tinggal aku nya saja, bisa fokus mengawal atau malah fokus merusak.

Apalah semua itu, hanya serpihan kecil dari besarnya mata galaksi Bima Sakti. Yakinlah, aku bukan mau pamer hal receh diatas. Hanya sedikit rekaman memori yang sayang sekali jika tidak ku buat abadi.

Melalui tulisan ini, ingin aku buncahkan milyaran rasa syukur yang seringkali aku lupakan. Maafkan Bunda, yang mudah sekali ‘sempit hati’, padahal begitu banyak nasihat bunda yang berusaha kau teladani.

Ya beginilah aku, yang menurut kebanyakan orang-orang aku adalah ibu-yang-tak-punya-banyak-kesibukan.

Kerjaanku hanya sibuk observasi, sudah sejauh mana aku bersyukur, menyukuri nikmat yang sudah Allah anugerahkan selama ini.

Membentengi diri dari fatamorgana ‘hijaunya rumput tetangga’, atau ‘blink-blink nya sepatu kaca’ wanita berjaya. Aku yakin, mereka pun punya struggle nya tersendiri, gak ada yang ujug-ujug berjaya tanpa perjuangan, right!

Aku sendiri berusaha keras untuk sadar dan tau diri sepatu yang seperti apa yang pas untuk aku kenakan saat ini. Tentu yang pas dan nyaman dipakai seumur hidup.

Salam Ibu Bahagia,

HENNY F LESTARI