BUNDA VS RAYS: FOKUS PADA KELEBIHAN, BUKAN KEKURANGAN.




Seringkali saya berfikir keras mengapa perempuan lemah, sok perfeksionis dan sulit mengendalikan emosi seperti saya ini Allah sandingkan dengan anak super aktif dan memiliki kecerdasan emosional yang tinggi.

SAYA YANG LABIL EMOSI VS THE BOY WITH ‘A BIG CAPACITY OF LOVE’S TANK’

Dalam keseharian saya membersamai Rayyan, lelah rasanya ketika saya harus menyeimbangkan sifat super aktifnya. Ia yang senang bangun pagi, dan langsung rewel minta perhatian, padahal pagi hari saya sudah punya segudang kewajiban yang harus segera dituntaskan, seperti shalat dan menyiapkan bekal untuk sang Ayah.

Saya jadi merasa tidak khusuk ketika shalat subuh ketika mendengar rengekannya dipagi hari, juga ketika menyiapkan bekal diiringi suara rewelnya yang minta segera dilayani ini dan itu. Saya yang notabene mudah sekali uring-uringan, menjadi momen yang buruk sekali ketika ini semua sedang terjadi.

Saya pernah berteriak dan melempar sutil ke wajan yang sedang berisi minyak panas, sehingga wajannya dekok, hanya karena saya ikutan resah mendengar anak yang terus merengek padahal saat itu sedang uber-uberan goreng ikan, masak sayur sembari mencuci beberapa wadah kotor bekas memasak.

Yang terpikirkan saat itu adalah betapa nelangsa nya saya, yang bahkan untuk sekedar mencari ‘ridho Allah’ yang paling sederhana saja saja sesulit ini. Saya sudah ‘merasa’ mengorbankan diri dengan tidak lagi bekerja diluar rumah demi anak, dan rela tidak berpenghasilan, namun mengapa sesulit ini.

Mengapa Rayyan gak juga mengerti, kejadian seperti ini berulang setiap hari. Jika memang ia sayang pada Bunda nya, mengapa saya justru merasa ia mengikis kesehatan kejiwaan saya.

Saya menangis, menyesali hal yang nyatanya saya sendiri bingung apa yang sedang saya sesali. Apa karena khilap berteriak dan melempar? Atau karena saya, 4 tahun yang lalu menyesal telah memutuskan menikah dan meninggalkan semua kehidupan keduniawian dan sok-sok an mengambil keputusan besar menjadi seorang ibu. Saat itu saya merasa, saya sudah hampir gila.

SAYA YANG SOK PERFEKSIONIS VS RAYYAN YANG SUPER AKTIF DAN IMAGINATIF

Ketika mengurus rumah saja sudah cukup lelah, ditambah Rayyan yang senang sekali membuat seisi rumah bak kapal pecah, rasanya jangankan waktu yang kurang buat saya menikmati waktu untuk sendiri, tenagapun sehari-hari habis tak berbekas hanya untuk mengulang perbuatan yang menurut saya useless dan berulang.

Boro-boro menyisihkan tenaga untuk bisa tetap menjadi pribadi yang produktif atau sekedar punya tenaga untuk bersilaturahim atau tenaga untuk menyenangkan suami, sehari-hari tenaga saya habis percuma untuk kembali membereskan kekacauan yang dibuat Rayyan di ruang tamu, dikamar, dikamar mandi, diteras, didapur, dikulkas, he really tease me everywhere!

Bodohnya lagi, saya hanya fokus membereskan rumah, lalu membereskannya lagi dan lagi bukan fokus membersamainya menjelajah dunia imajinasi nya, sehingga tak ada yang saya dapat, hanya kelelahan sendiri, lelah jiwa, lelah raga. Why I am such a silly perfectionist person!

SAYA YANG KLEMAR-KLEMER VS RAYYAN, SI ANAK SUPER AKTIF

Ia mewarisi sifat ayahnya. Sejak masih bayi Rayyan adalah anak yang gak bisa diem. Dalam keadaan sehat waras saya selalu membanggakan hal itu, namun dengan segala perbedaan yang ada antara saya dan Rayyan nyatanya sudah membuat saya totally down sejak pagi hari ketika mata baru saja membuka. Saya merasa tidak pernah mengawali hari dengan mood yang waras, menyedihkan sekali.

Saking aktifnya, ia meminta sekolah diusianya yang belum genap 4 tahun padahal saya belum siap atas segala sesuatunya. Ia akan uring-uringan ketika saya tidak mengijinkannya berangkat sekolah atau ketika saya lelah untuk mengajaknya bermain diluar rumah.

Perkucing dengan main dirumah, ia hanya betah tak lebih dari 10 menit bermain satu jenis permainan yang sengaja saya ciptakan agar demi ia betah bermain dirumah.

Saya pernah meninggalkannya sebentar saja untuk mandi, tak sampai 5 menit saya selesai mandi, komputer tempat saya mencari sepeser uang, rupanya telah ia colok dengan pulpen sehingga ‘bluescreen’

Saya trauma berat meninggalkan ia sendirian, namun saya tak punya banyak tenaga untuk terus menjaganya seperti agen bodyguard.

Ya Allah, saya lelah.. tapi siapalah yang bisa menjaga anak ini untuk saya?

Ditengah nelangsa yang saya rasakan, kepala saya rasanya terus berputar mencari jawaban dari pertanyaan besar “mengapa Allah menyandingkan saya dengan Rayyan”
Dalam doa dan terus memohon ampun, Allah memberi petunjuk. Sepertinya tidak ada yang salah diantara saya dan Rayyan. Sayalah orang tuanya, membersamai bocah super gak semudah memelihara kucing maupun kelinci. Allah menganugerahkan saya seorang anak manusia istimewa yang tentu butuh STRATEGI KHUSUS dalam membersamainya.

Ibarat mobil membeli mobil mahal, tentu perawatannya juga mahal. Fitrahnya anak itu ISTIMEWA. Allah telah memberi saya anugerah yang bernilai mahal, lalu tugas saya bagaiman saya akan mempertaruhkan masa depan dunia dan akhirat saya untuk bisa menjaga fitrah istimewa si anak super ini.

Inilah yang membuat saya merasa sulit, saya tidak menyadari bahwa Allah Maha Baik, mengkaruniakan saya anak dengan fitrah yang hebat. Saya kurang sekali merasa bersyukur bahwa merawat fitrah baik itu gak mudah, alias mahal, butuh usaha yang sepadan dengan keistimewaan yang telah diberikan.

Semoga kami sebagai orangtua dimampukan dalam membersamai Rayyan dengan segala keistimewaannya. Semoga berkah Allah selalu bersamamu, Nak!

Jadilah magnet bagi doa-doa baik, jadilah perisai bagi segala kemudharatan. Jadilah beruntung dan bermanfaat, duhai Muhammad Rayyan Abqori.

Semoga dimudahkan dalam tulisan selanjutnya, dalam mengurai strategi dalam membersamai mu, Nak. #MasyaAllahTabarakallah

Terimakasih sudah bersedia mampir dan menyempatkan membaca, saya akan senang sekali jika teman-teman berkenan meninggalkan komentarnya dibawah ini – HENNY F LESTARI

0 Comments